Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Oktober 2008

rasa itu..



Seorang pria bertemu dengan seorang gadis di sebuah pesta, si gadis tampil luar biasa cantiknya, banyak lelaki yang mencoba mengejar si gadis. Si pria sebetulnya tampil biasa saja dan tak ada yang begitu memperhatikan dia, tapi pada saat pesta selesai dia memberanikan diri mengajak si gadis untuk sekedar mencari minuman hangat. Si gadis agak terkejut, tapi karena kesopanan si pria itu, si gadis mengiyakan ajakannya. Dan mereka berdua akhirnya duduk di sebuah coffee shop, tapi si pria sangat gugup untuk berkata apa-apa dan si gadis mulai merasa tidak nyaman dan berkata, “Kita pulang aja yuk…?”.

Namun tiba-tiba si pria meminta sesuatu pada sang pramusaji, “Bisa minta garam buat kopi saya?” Semua orang yang mendengar memandang dengan ke arah si pria, aneh sekali! Wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia memasukkan garam tersebut ke dalam kopinya dan meminumnya. Si gadis dengan penasaran bertanya, “Kenapa kamu bisa punya hobi seperti ini?”

Si pria menjawab, “Ketika saya kecil, saya tinggal di daerah pantai dekat laut, saya suka bermain di laut, saya dapat merasakan rasanya laut, asin dan sedikit menggigit, sama seperti kopi asin ini. Dan setiap saya minum kopi asin, saya selalu ingat masa kanak-kanak saya, ingat kampung halaman di surabaya, saya sangat rindu kampung halaman saya, saya kangen orang tua saya yang masih tinggal di sana.”

Begitu berkata kalimat terakhir, mata si pria mulai berkaca-kaca, dan si gadis sangat tersentuh akan perasaan tulus dari ucapan pria di hadapannya itu. Si gadis berpikir bila seorang pria dapat bercerita bahwa ia rindu kampung halamannya, pasti pria itu mencintai rumahnya, perduli akan rumahnya dan mempunyai tanggung jawab terhadap rumahnya. Kemudian si gadis juga mulai berbicara, bercerita juga tentang kampung halamannya nun jauh di sana di yogja, masa kecilnya, dan keluarganya.

Suasana kaku langsung berubah menjadi sebuah perbincangan yang hangat juga akhirnya menjadi sebuah awal yang indah dalam cerita mereka berdua. Mereka akhirnya berpacaran. Si gadis akhirnya menemukan bahwa si pria itu adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala permintaannya, dia sangat perhatian, berhati baik, hangat, sangat perduli … betul-betul seseorang yang sangat baik tapi si gadis hampir saja kehilangan seorang lelaki seperti itu! Untung ada kopi asin!

Kemudian cerita berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta yang indah, sang putri menikah dengan sang pangeran dan mereka hidup bahagia selamanya, dan setiap saat sang putri membuat kopi untuk sang pangeran, ia membubuhkan garam di dalamnya, karena ia tahu bahwa itulah yang disukai oleh pangerannya. Setelah 40 tahun, si pria meninggal dunia, dan meninggalkan sebuah surat yang berkata, “Sayangku yang tercinta, mohon maafkan saya, maafkan kalau seumur hidupku adalah dusta belaka. Hanya sebuah kebohongan yang aku katakan padamu … tentang kopi asin.”

Ingat sewaktu kita pertama kali jalan bersama? Saya sangat gugup waktu itu, sebenarnya saya ingin minta gula tapi malah berkata garam. Sulit sekali bagi saya untuk merubahnya karena kamu pasti akan tambah merasa tidak nyaman, jadi saya maju terus. Saya tak pernah terpikir bahwa hal itu ternyata menjadi awal komunikasi kita! Saya mencoba untuk berkata sejujurnya selama ini, tapi saya terlalu takut melakukannya, karena saya telah berjanji untuk tidak membohongimu untuk suatu apa pun.

Sekarang saya sekarat, saya tidak takut apa-apa lagi jadi saya katakan padamu yang sejujurnya, saya tidak suka kopi asin, betul-betul aneh dan rasanya tidak enak. Tapi saya selalu dapat kopi asin seumur hidupku sejak bertemu denganmu, dan saya tidak pernah sekalipun menyesal untuk segala sesuatu yang saya lakukan untukmu. Memilikimu adalah kebahagiaan terbesar dalam seluruh hidupku. Bila saya dapat hidup untuk kedua kalinya, saya tetap ingin bertemu kamu lagi dan memilikimu seumur hidupku, meskipun saya harus meminum kopi asin itu lagi.

Air mata si gadis betul-betul membuat surat itu menjadi basah. Kemudian hari bila ada seseorang yang bertanya padanya, apa rasanya minum kopi pakai garam? Si gadis pasti menjawab, “Rasanya manis.”

Kadang anda merasa anda mengenal seseorang lebih baik dari orang lain, tapi hanya untuk menyadari bahwa pendapat anda tentang seseorang itu bukan seperti yang anda gambarkan. Sama seperti kejadian kopi asin tadi. Tambahkan Cinta dan Kurangi Benci karena terkadang garam terasa lebih manis daripada gula.


Jumat, 05 September 2008

semangat s0bat Qhuwh^^


hehehe....cerita yg na buat ini adalah bener2 bukan fiksi, jika ad kSamaan nama, karakter t0k0h dan t4b kJadian hal itu adalah diSengaja....

Alkisah, d SMP Bahagia, tersebutlah se0rang penghuninya yang lagi-lagi jadi k0rban r0tasi kelas. Memang di SMP ini ada kebiasaan untuk meng'aman'kan siswanya yang dikateg0rikn :
-terlalu pintarrrrrr
-nakalllll
-k0ntr0versiallll

Nah, kluw dtanya ttg anak yg satu ini, mnrt tmn2x sii...g pintar2 amat, s0 tuh anak masuk kateg0ri nakal&k0ntr0versial,hehehehe,,,,
Gmn g k0ntr0versial c0ba! hampir preman seKampung jadi best Prendx...tmn2nya kbanyakn c0w2 smua, pdhal d0i cew! rambutnya agak2 merah terkesan awut2an,(tmn2x curiga kluw dy jarang keramas! eh, btw taw g ap sin0nim keramas?? jawab: m0nyetmasss,hehehehe,,,piZ!^_^)
lanjuuut.....
0k, kita sebut aja anak ini bunga, Eh, g denk, nama bunga terlalu lembut untuk sifatnya yang t0mb0yyy...0k, sebut aja dy knalp0t,hehehehe,,,setuju.....
Nah, suatu ketika ada c0w0k yang diduga katarak cz naksir ma ni knalp0t. tyt, mnurut sumber yang tidak dapat diPercaya tp meyakinkan, c knalp0t da taw kluw c0w sableng it ngirim sinyal2 g berez k dy(baca:naksir), truz akhirnya c knalp0t agak2 jauhin cow katarak it...
cerita berlanjut saat c c0w kurang kerjaan it punya ide untuk meluluhkan c knalp0t. c0w it mendekati salah satu teman seKelasnya dg maksud mbuat c knalp0t cemb0kurr...pas ada pentas drama bhs ind0nesia, tuh c0w sableng nekat menggandakan peran untuk dimainkan c knalp0t dan tmannya agar c knalp0t jd cemb0kur, tp klau dtanya gmn hasilnya, lu2hkah hati c knalp0t?
>
>
>
>
G.A.G.A.L..T.0.T.A.L.....
huehuehehehehe,,,,,

truz,,,,pas dah SMA, tak diduga tak diSangka, c knalp0t jd 0rang yg alim, hehehe,,rambut awut2annya it dah g kliatan lagi, cz dy make jilbab get0 lh0ch,,,,whaaaa...tmn2x sh0ck gt pas liat dy berubah gitu.....
tapi itu adalah perubahan yang p0sitif, k0k,,,

keren sekali kisah hidup t0k0h perjuangan dalam melawan arus ini yuaaa...
hehehehehe,,,
keren!

tak pikir yang dlu pas SMP ancur2an cm diriQ....hehehehe....
eh, ana tuh pas SMP bner2 tragis, kejam, jahat, eg0is, dan bikin 0rang em0si...
tapi, inilah hidup, terkadang kitalah yang harus membuat k0nflik!^^

Kamis, 07 Agustus 2008

Aku Hanya Ingin Membahagiakanmu

Aku Hanya Ingin Membahagiakanmu*


Aku hanya ingin membuatmu bahagia, janganlah kau menolak kehadiranku, meski hanya untuk beberapa saat, biarkan aku menemani dirimu dalam kesedihanmu.
Aku hanya ingin membuatmu bahagia, mengembalikan senyum yang dulu pernah berseri menyambut pagi, mencari tempat yang indah untuk menggantikan hari yang penuh dengan rasa duka.
Aku hanya ingin membuatmu bahagia, meski aku harus menderita untuk membayarnya....
Entah, sekarang aku hanya ingin merenung, memikirkan apakah aku pantas menawarkan diri, untuk menjadi penghibur mengusir kesedihannya, Hani, aku hanya ingin membantu untuk melewati kesedihanmu setelah kehilangan seorang ayah, menurutku kehilangan seorang yang kita cintai itu sangat berat, apalagi seorang ayah, sama seperti yang pernah aku rasakan tiga tahun silam, aku tak ingin kau melewati hari-hari seorang diri, mungkin hanya beberapa hari saja, kehilangan seorang ayah yang telah menemani seumur hidup? Aku tahu itu sungguh berat.
Aku tak tahan melihat air matanya yang terus membasahi pipinya, aku paling tidak tahan melihat wanita mengucurkan air matanya, kini, keceriaan yang dulu pernah ada telah hilang, ah...aku hanya ingin membantunya untuk mengembalikan kebahagiaan yang dulu pernah ada.
Mentari pagi ini begitu bersahabat, aku berjalan pada trotoar yang di sampingnya berdiri dengan kokoh pohon-pohon mahoni, begitu rindang, begitu besar, sehingga jalan yang kulewati terasa begitu sejuk, dari atas kepalaku, bunganya yang kuning dan kecil-kecil berguguran, menghujani tubuhku. Aku menarik nafas panjang, ah.... harum khas bunga mahoni, inilah jalan yang paling aku sukai di kota kecil ini. Memberiku ketenangan, bilakah? dia ingin bila ku ajak untuk menikmati suasana yang seperti ini, entahlah... sementara itu, angkot yang ingin aku naiki, telah banyak yang lewat, aku tak ingin telat untuk kuliah pagi ini.
Kuliah hari ini seperti biasa, hanya mendengarkan beberapa ceramah Dosen lalu memberikan tugas untuk menambah nilai border . sedangkan pikiranku masih teringat pada Hani, seorang gadis yang telah merebut simpati diriku. Ah...semoga aku tak tetap bisa menjaga niat untuk membantunya dengan ikhlas.
Malam ini, langit cerah tak berawan, bintang-bintang belum begitu banyak, mungkin nanti tengah malam semua bintang akan hadir, menemani mereka yang shalat malam bermunajat pada sang Khalik. Aku mangambil jaket merah yang biasa kupakai semenjak aku sekolah menengah pertama, walaupun warnanya sudah agak pudar, aku tetap suka untuk memakainya kemanapun aku pergi. Dengan mengendarai motor berdua, angin malam terasa begitu dingin, tak percuma aku memakai jaket. Malam ini memang lebih dingin dari biasanya. Ini layatan yang kedua setelah hari kemarin, temanku yang satu ini belum melayat ke rumahnya. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekalian saja ikut. Setelah sampai di rumahnya aku tak banyak bicara, maksudku sudah di sampaikan melalui tarbawi yang aku bawa, ingin sekali melihat senyumnya seperti yang dulu, senyuman yang asli dari tulusnya hati. Tarbawi itu berisi tausiyah ruhani tentang kenangan dan kepergian orang-orang yang dicintai, semoga saja dapat membantu, sambil menyodorkannya, dia tak banyak bicara, hanya saja, matanya masih terlihat sembab, tapi aku tak berani untuk terus bertatapan dengannya. Aku masih canggung untuk bertatapan langsung dengannya. Aku berdoa dalam hatiku, Semoga tak melencengkan niat untuk membantu, bismillah...
Ya Allah
Seandainya telah Engkau catatkan dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi Dan ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini Ke tepian yang sejahtera dan abadi
Rasa untuk membahagiakan dirinya itu telah terwujud dan mencapai puncaknya ketika aku ingin menikah dengannya, Nikah itu ibadah. Nikah itu suci. Ingat itu. Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena kecantikan bisa karena keturunan, dan bisa karena agama. Jangan engkau jadikan harta, keturunan maupun kecantikan sebagai alasan karena semua itu akan menyebabkan celaka. Jadikanlah agama sebagai alasan Engkau akan mendapatkan kebahagiaan! Aku menegaskan kepada diriku sendiri bahwa niat ini bukanlah main-main.
Hani, Aku ingin memiliki rumah idaman yang semua dindingnya terbuat dari kaca, rumah itu di bangun di daerah dataran tinggi agar terasa sejuk, di halamannya banyak terdapat bunga – bunga, yang akan mengundang kupu-kupu ketika mereka bermekaran, dan mengajak kunang-kunang untuk hadir di malam harinya, lalu, saat aku bangun tidur, aku ingin menghirup langsung udara pengunungan yang sejuk, saat aku membuka mata, aku ingin pemandangan pegunungan yang pertama aku lihat, aku ingin menciptakan saat indah di mana matahari akan memberikan kehangatan secara langsung rumah kita. pada bagian bawahnya aku ingin membangun basement yang berfungsi sebagai ruang keluarga, di bagian ujungnya ada dapur dan lorong yang menyambung jalan ke perkebunan. Hani menambahkan bahwa dia ingin ada air mancur di depan rumah, yang di bawahnya ada ikan-ikan yang dapat di ajaknya bermain ketika aku berkerja. Terserah apa maumu, yang penting sekarang kita harus menghalalkan hubungan kita dulu kataku.
Fatih, aku ingin memiliki anak kembar, memiliki lembaga sosial yang menampung tuna wisma, memiliki toko kue, karena ayahku senang sekali makan kue, sekalian menyalurkan hobiku, aku ingin... perlahan aku dengarkan suaranya semakin serak, dan air matanya semakin deras mengalir, aku ingin berada dekat di sampingnya, tetapi aku belum halal baginya. Aku hanya terdiam, dan tak bisa bertindak apa-apa selain memberikan tissue untuk mengeringkan air matanya. Agr...aku menyalahkan diriku sendiri, mengapa aku mengingatkan dirinya pada kematian ayahnya, dasar bodoh!
Aku tahu ini salah, aku tahu ini tidak boleh, ketika dua insan yang belum halal hanya ada berdua dalam sebuah ruangan. Maka pihak ketiganya adalah syetan! Tanpa pikir panjang aku ingin segera pulang, Hani, Aku pamit dulu!
Apakah ini yang di namakan cinta itu buta, membutakan hati, mata, dan telinga ku. Melupakan diriku pada Rabb yang seharusnya selalu bersemayam di hatiku, apakah cinta ku padanya semakin menjauhkan diriku pada Allah? Pikiran-pikiran itu terus melayang-layang dalam benakku, semakin aku memikirkannya, semakin pandai akalku untuk mencari pembenaran bahwa yang selama ini aku lakukan masih dalam koridor syariat-Nya. Ya Rabb... jangan butakan hatiku dengan cinta yang menipu...
Ada sebuah keinginan untuk selalu bersama, tetapi Allah memiliki jalan lain untuk menjaga kami. Aku harus pergi untuk program pertukaran mahasiswa selama satu tahun ke luar kota. Tempat yang aku tuju di kenal sangat kondusif bagi para aktivis kampus. Yang aku takutkan bukan hanya meninggalkannya, tetapi sewaktu aku tak berada di sisinya, aku takut dia akan terlarut kembali dalam kesedihannya. Aku tak ingin meninggalkannya setelah Hani memiliki sesuatu untuk menggantikan diriku! Semoga dia dapat mengerti alasan aku pergi...
Aku tak sempat untuk bertemu dengannya sebelum pergi, perpisahanku dengan Hani hanya melalui telepon.
Kalau kau pergi lalu aku bagaimana?
Sabar, cari ilmu, dan jangan lupa untuk selalu berdoa! Kataku.
Aku akan meninggalkan diari milikku untuk mu, apabila ada sesuatu yang mengganjal hatimu, kau harus menuliskannya di situ! Aku ingin kau tahu bahwa kau pasti kuat!
Dadaku rasanya di penuhi perasaan yang meluap-luap untuk menahan tangisku. Aku tak boleh menangis, aku harus tahan, aku hanya membentur-benturkan kepalaku. Aku tak sanggup untuk terus memegang gagang telepon, aku tak sanggup untuk mendengarkan kata-kata perpisahan darinya.
Di sana jaga hati! Jangan lupa sholat dan tilawah, jangan lupa makan, dan jangan lupa jaga kesehatan dengan olahraga yang cukup.
Selamat jalan mujahidku...jalanlah dengan penuh senyuman, bahagia dan tekad yang bulat. Dan jaga senantiasa niatmu yang tulus karena-Nya.
Allah yang mempertemukan dan memisahkan kita, Dia yang Maha Kuasa...
Dalam hatiku, rasanya ada beban yang begitu berat. Aku melangkah dengan gontai ketika menutup gagang telepon, mengapa jadi aku yang takut kehilangannya, mengapa jadi aku yang lemah, dan tak bisa menunjukkan diri sebagai seorang pria. Saat ini, aku hanya ingin tilawah, dan bersimpuh di hapadan-Nya, Allah...betapa lemah kekuatan diri hamba ini... malam ini aku hanya ingin bersimpuh memohon petunjuknya...
Aku menjalani kehidupan baruku sebagai manusia yang memiliki semangat baru untuk menyongsong hari esok dengan penuh semangat. Di sini, lingkungannya begitu kondusif, aku benar-benar mangalami percepatan dalam hal pemikiran tentang dakwah yang selama ini aku jalani, bahwa kesuksesan dakwah itu, tujuh puluh lima persennya berada di atas sajadah, yang berarti kedekatan ku dengan Sang Khalik amat menentukan, kini saatnya memutar haluan demi kelangsungan hidupku mempertahankan idealisme dakwah.
Ukhti... cukup sudah aku bertahan dalam lembah angan-angan, aku tak ingin menodai kesucian cintamu dengan angan-angan yang hanya akan melenakan kita sehingga kita melupakan tugas utama kita untuk hadir di dunia. Untuk beribadah kepada-Nya.
Ukhti...sampai kapan kita akan terus begini, tak ada ketegasan dalam hubungan kita, niat kita untuk menikah, justeru semakin menjerusmuskan kita pada lembah kemaksiatan yang kita sendiri tidak menyadarinya. Dari sinilah akan banyak kotoran-kotoran yang akan membuat hitam legam hati dan hari kita.
Ukhti...aku ingin kita berubah, berubah atas nama cinta kepada-Nya. Berubah menuju jalan yang penuh di ridhoi-Nya, merubah segala hal yang telah melenceng dari jalan yang lurus yang dulu pernah sama-sama kita rasakan indahnya. Ukhti..mulai saat ini aku kita harus saling tegas, bahwa kita memiliki hubungan yang belum halal. Sehingga kita tidak bisa berdua-duan bersama, atau sekedar sms kangen! yang hanya akan melemahkan semangat dalam perjalan dakwah ini.
Ukhti....selamatkan diri kita sebelum lebih jauh terperosok ke lembah dosa, yang akan menghinakan kita, menghinakan hingga kita dapat kembali kepada jalan taubat-Nya yang suci.
ya Allah¦
Seandainya telah Engkau takdirkan Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku
Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya...
Ya Allah ya Tuhanku
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu …
Hatiku masih berdebar-debar saat membaca surat terakhir untuknya, sebelum pergi, aku telah menuliskan surat balasan untuknya, untuk yang terakhir kalinya. Aku menulis kata-kata itu dalam diari ku sebelum pergi, semoga dia dapat mengerti maksudku dari kata-kataku.
Hani...aku hanya ingin membahagiakanmu....

*cerpen ini pernah di tulis untuk lomba cerpen pujangga 2006 FEM IPB
Nangis Nangis Nangis Brokeh Heart Brokeh Heart Brokeh Heart

Aku Hanya Ingin Membahagiakanmu

Aku Hanya Ingin Membahagiakanmu*


Aku hanya ingin membuatmu bahagia, janganlah kau menolak kehadiranku, meski hanya untuk beberapa saat, biarkan aku menemani dirimu dalam kesedihanmu.
Aku hanya ingin membuatmu bahagia, mengembalikan senyum yang dulu pernah berseri menyambut pagi, mencari tempat yang indah untuk menggantikan hari yang penuh dengan rasa duka.
Aku hanya ingin membuatmu bahagia, meski aku harus menderita untuk membayarnya....
Entah, sekarang aku hanya ingin merenung, memikirkan apakah aku pantas menawarkan diri, untuk menjadi penghibur mengusir kesedihannya, Hani, aku hanya ingin membantu untuk melewati kesedihanmu setelah kehilangan seorang ayah, menurutku kehilangan seorang yang kita cintai itu sangat berat, apalagi seorang ayah, sama seperti yang pernah aku rasakan tiga tahun silam, aku tak ingin kau melewati hari-hari seorang diri, mungkin hanya beberapa hari saja, kehilangan seorang ayah yang telah menemani seumur hidup? Aku tahu itu sungguh berat.
Aku tak tahan melihat air matanya yang terus membasahi pipinya, aku paling tidak tahan melihat wanita mengucurkan air matanya, kini, keceriaan yang dulu pernah ada telah hilang, ah...aku hanya ingin membantunya untuk mengembalikan kebahagiaan yang dulu pernah ada.
Mentari pagi ini begitu bersahabat, aku berjalan pada trotoar yang di sampingnya berdiri dengan kokoh pohon-pohon mahoni, begitu rindang, begitu besar, sehingga jalan yang kulewati terasa begitu sejuk, dari atas kepalaku, bunganya yang kuning dan kecil-kecil berguguran, menghujani tubuhku. Aku menarik nafas panjang, ah.... harum khas bunga mahoni, inilah jalan yang paling aku sukai di kota kecil ini. Memberiku ketenangan, bilakah? dia ingin bila ku ajak untuk menikmati suasana yang seperti ini, entahlah... sementara itu, angkot yang ingin aku naiki, telah banyak yang lewat, aku tak ingin telat untuk kuliah pagi ini.
Kuliah hari ini seperti biasa, hanya mendengarkan beberapa ceramah Dosen lalu memberikan tugas untuk menambah nilai border . sedangkan pikiranku masih teringat pada Hani, seorang gadis yang telah merebut simpati diriku. Ah...semoga aku tak tetap bisa menjaga niat untuk membantunya dengan ikhlas.
Malam ini, langit cerah tak berawan, bintang-bintang belum begitu banyak, mungkin nanti tengah malam semua bintang akan hadir, menemani mereka yang shalat malam bermunajat pada sang Khalik. Aku mangambil jaket merah yang biasa kupakai semenjak aku sekolah menengah pertama, walaupun warnanya sudah agak pudar, aku tetap suka untuk memakainya kemanapun aku pergi. Dengan mengendarai motor berdua, angin malam terasa begitu dingin, tak percuma aku memakai jaket. Malam ini memang lebih dingin dari biasanya. Ini layatan yang kedua setelah hari kemarin, temanku yang satu ini belum melayat ke rumahnya. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekalian saja ikut. Setelah sampai di rumahnya aku tak banyak bicara, maksudku sudah di sampaikan melalui tarbawi yang aku bawa, ingin sekali melihat senyumnya seperti yang dulu, senyuman yang asli dari tulusnya hati. Tarbawi itu berisi tausiyah ruhani tentang kenangan dan kepergian orang-orang yang dicintai, semoga saja dapat membantu, sambil menyodorkannya, dia tak banyak bicara, hanya saja, matanya masih terlihat sembab, tapi aku tak berani untuk terus bertatapan dengannya. Aku masih canggung untuk bertatapan langsung dengannya. Aku berdoa dalam hatiku, Semoga tak melencengkan niat untuk membantu, bismillah...
Ya Allah
Seandainya telah Engkau catatkan dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi Dan ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini Ke tepian yang sejahtera dan abadi
Rasa untuk membahagiakan dirinya itu telah terwujud dan mencapai puncaknya ketika aku ingin menikah dengannya, Nikah itu ibadah. Nikah itu suci. Ingat itu. Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena kecantikan bisa karena keturunan, dan bisa karena agama. Jangan engkau jadikan harta, keturunan maupun kecantikan sebagai alasan karena semua itu akan menyebabkan celaka. Jadikanlah agama sebagai alasan Engkau akan mendapatkan kebahagiaan! Aku menegaskan kepada diriku sendiri bahwa niat ini bukanlah main-main.
Hani, Aku ingin memiliki rumah idaman yang semua dindingnya terbuat dari kaca, rumah itu di bangun di daerah dataran tinggi agar terasa sejuk, di halamannya banyak terdapat bunga – bunga, yang akan mengundang kupu-kupu ketika mereka bermekaran, dan mengajak kunang-kunang untuk hadir di malam harinya, lalu, saat aku bangun tidur, aku ingin menghirup langsung udara pengunungan yang sejuk, saat aku membuka mata, aku ingin pemandangan pegunungan yang pertama aku lihat, aku ingin menciptakan saat indah di mana matahari akan memberikan kehangatan secara langsung rumah kita. pada bagian bawahnya aku ingin membangun basement yang berfungsi sebagai ruang keluarga, di bagian ujungnya ada dapur dan lorong yang menyambung jalan ke perkebunan. Hani menambahkan bahwa dia ingin ada air mancur di depan rumah, yang di bawahnya ada ikan-ikan yang dapat di ajaknya bermain ketika aku berkerja. Terserah apa maumu, yang penting sekarang kita harus menghalalkan hubungan kita dulu kataku.
Fatih, aku ingin memiliki anak kembar, memiliki lembaga sosial yang menampung tuna wisma, memiliki toko kue, karena ayahku senang sekali makan kue, sekalian menyalurkan hobiku, aku ingin... perlahan aku dengarkan suaranya semakin serak, dan air matanya semakin deras mengalir, aku ingin berada dekat di sampingnya, tetapi aku belum halal baginya. Aku hanya terdiam, dan tak bisa bertindak apa-apa selain memberikan tissue untuk mengeringkan air matanya. Agr...aku menyalahkan diriku sendiri, mengapa aku mengingatkan dirinya pada kematian ayahnya, dasar bodoh!
Aku tahu ini salah, aku tahu ini tidak boleh, ketika dua insan yang belum halal hanya ada berdua dalam sebuah ruangan. Maka pihak ketiganya adalah syetan! Tanpa pikir panjang aku ingin segera pulang, Hani, Aku pamit dulu!
Apakah ini yang di namakan cinta itu buta, membutakan hati, mata, dan telinga ku. Melupakan diriku pada Rabb yang seharusnya selalu bersemayam di hatiku, apakah cinta ku padanya semakin menjauhkan diriku pada Allah? Pikiran-pikiran itu terus melayang-layang dalam benakku, semakin aku memikirkannya, semakin pandai akalku untuk mencari pembenaran bahwa yang selama ini aku lakukan masih dalam koridor syariat-Nya. Ya Rabb... jangan butakan hatiku dengan cinta yang menipu...
Ada sebuah keinginan untuk selalu bersama, tetapi Allah memiliki jalan lain untuk menjaga kami. Aku harus pergi untuk program pertukaran mahasiswa selama satu tahun ke luar kota. Tempat yang aku tuju di kenal sangat kondusif bagi para aktivis kampus. Yang aku takutkan bukan hanya meninggalkannya, tetapi sewaktu aku tak berada di sisinya, aku takut dia akan terlarut kembali dalam kesedihannya. Aku tak ingin meninggalkannya setelah Hani memiliki sesuatu untuk menggantikan diriku! Semoga dia dapat mengerti alasan aku pergi...
Aku tak sempat untuk bertemu dengannya sebelum pergi, perpisahanku dengan Hani hanya melalui telepon.
Kalau kau pergi lalu aku bagaimana?
Sabar, cari ilmu, dan jangan lupa untuk selalu berdoa! Kataku.
Aku akan meninggalkan diari milikku untuk mu, apabila ada sesuatu yang mengganjal hatimu, kau harus menuliskannya di situ! Aku ingin kau tahu bahwa kau pasti kuat!
Dadaku rasanya di penuhi perasaan yang meluap-luap untuk menahan tangisku. Aku tak boleh menangis, aku harus tahan, aku hanya membentur-benturkan kepalaku. Aku tak sanggup untuk terus memegang gagang telepon, aku tak sanggup untuk mendengarkan kata-kata perpisahan darinya.
Di sana jaga hati! Jangan lupa sholat dan tilawah, jangan lupa makan, dan jangan lupa jaga kesehatan dengan olahraga yang cukup.
Selamat jalan mujahidku...jalanlah dengan penuh senyuman, bahagia dan tekad yang bulat. Dan jaga senantiasa niatmu yang tulus karena-Nya.
Allah yang mempertemukan dan memisahkan kita, Dia yang Maha Kuasa...
Dalam hatiku, rasanya ada beban yang begitu berat. Aku melangkah dengan gontai ketika menutup gagang telepon, mengapa jadi aku yang takut kehilangannya, mengapa jadi aku yang lemah, dan tak bisa menunjukkan diri sebagai seorang pria. Saat ini, aku hanya ingin tilawah, dan bersimpuh di hapadan-Nya, Allah...betapa lemah kekuatan diri hamba ini... malam ini aku hanya ingin bersimpuh memohon petunjuknya...
Aku menjalani kehidupan baruku sebagai manusia yang memiliki semangat baru untuk menyongsong hari esok dengan penuh semangat. Di sini, lingkungannya begitu kondusif, aku benar-benar mangalami percepatan dalam hal pemikiran tentang dakwah yang selama ini aku jalani, bahwa kesuksesan dakwah itu, tujuh puluh lima persennya berada di atas sajadah, yang berarti kedekatan ku dengan Sang Khalik amat menentukan, kini saatnya memutar haluan demi kelangsungan hidupku mempertahankan idealisme dakwah.
Ukhti... cukup sudah aku bertahan dalam lembah angan-angan, aku tak ingin menodai kesucian cintamu dengan angan-angan yang hanya akan melenakan kita sehingga kita melupakan tugas utama kita untuk hadir di dunia. Untuk beribadah kepada-Nya.
Ukhti...sampai kapan kita akan terus begini, tak ada ketegasan dalam hubungan kita, niat kita untuk menikah, justeru semakin menjerusmuskan kita pada lembah kemaksiatan yang kita sendiri tidak menyadarinya. Dari sinilah akan banyak kotoran-kotoran yang akan membuat hitam legam hati dan hari kita.
Ukhti...aku ingin kita berubah, berubah atas nama cinta kepada-Nya. Berubah menuju jalan yang penuh di ridhoi-Nya, merubah segala hal yang telah melenceng dari jalan yang lurus yang dulu pernah sama-sama kita rasakan indahnya. Ukhti..mulai saat ini aku kita harus saling tegas, bahwa kita memiliki hubungan yang belum halal. Sehingga kita tidak bisa berdua-duan bersama, atau sekedar sms kangen! yang hanya akan melemahkan semangat dalam perjalan dakwah ini.
Ukhti....selamatkan diri kita sebelum lebih jauh terperosok ke lembah dosa, yang akan menghinakan kita, menghinakan hingga kita dapat kembali kepada jalan taubat-Nya yang suci.
ya Allah¦
Seandainya telah Engkau takdirkan Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku
Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya...
Ya Allah ya Tuhanku
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu …
Hatiku masih berdebar-debar saat membaca surat terakhir untuknya, sebelum pergi, aku telah menuliskan surat balasan untuknya, untuk yang terakhir kalinya. Aku menulis kata-kata itu dalam diari ku sebelum pergi, semoga dia dapat mengerti maksudku dari kata-kataku.
Hani...aku hanya ingin membahagiakanmu....

*cerpen ini pernah di tulis untuk lomba cerpen pujangga 2006 FEM IPB
Nangis Nangis Nangis Brokeh Heart Brokeh Heart Brokeh Heart

Rabu, 09 Juli 2008

Ajari aku memeluk Landak

N0i menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah.
Belum ada.
N0i masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi.
Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya
berulang kali untuk makan duluan, tidak dia gubris.
Pukul 18.30. Tinnn... Tiiiinnnnn.. .!! N0i kecil melompat girang!
Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dia cintai itu masuk ke rumah.
Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu mengempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih sehabis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga. Bagi si kecil N0i juga, yang tentunya belum mengerti banyak. Di otaknya yang kecil,
N0i cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan Papa pulang.
"Mama, mama.... Mama, mama...." N0i menggerak-gerakkan tangan.
"Mama...." Mama diam saja. Dengan cemas N0i bertanya, "Mama sakit ya?
Mana yang sakit? Mam, mana yang sakit?"
Mama tidak menjawab. Hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata.
N0i makin gencar bertanya, "Mama, mama... mana yang sakit? N0i ambilin obat ya? Ya? Ya?"
Tiba-tiba... "N0i !! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!"
Mama membentak dengan suara tinggi.
Kaget...!!
N0i mundur perlahan. Matanya menyipit. Kaki kecilnya gemetar. Bingung.
N0i salah apa? N0i sayang Mama... N0i salah apa? Takut-takut, N0i menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya. Otak kecil N0i terus bertanya-tanya: Mama, N0i salah apa? Mama tidak suka dekat-dekat N0i ? N0i
mengganggu Mama?N0i tidak boleh sayang Mama, ya? Berbagai peristiwa sejenis terjadi.
Dan otak kecil N0i merekam semuanya. Maka tahun-tahun berlalu. N0i tidak lagi kecil. N0i bertambah tinggi. N0i remaja. N0i mulai beranjak menuju dewasa.

Tin.. Tiiinnn... ! Mama pulang. Papa pulang. N0i menurunkan kaki dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan mengunci pintu. Menghilang dari pandangan.
"N0i mana?"
"Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya."

Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian berpikir dengan hati terluka: Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku? Apa dosaku?
Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat sama orangtua!
Tidak seperti jaman dulu.
Di atas, N0i mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam diam. Dari jauh. Dari tempat di mana ia tidak akan terluka. "Mama, Papa, katakan padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?"

Sabtu, 05 Juli 2008

Kerudung Putih Itu


KERUDUNG PUTIH ITU

Hari begitu panas ketika di suatu siang Afrizal bertemu seorang Gadis Berkerudung di depan masjid Kampus Margaraya Hijau, kampus terbesar di kota Hijau. Afrizal mematung saja. Termangu. Ia mengenal benar gadis itu, namun biasanya dalam penampilan berbeda. Kontras sekali dengan saat itu. Gadis berkerudung itu adalah Nur Dian Sari, teman kampusnya.
Sudah beberapa bulan ini Afrizal tak pergi ke kampus. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di sebuah lembaga Non Government Organisation dan juga di sekolah alternatif untuk anak-anak jalanan. Selama waktu itu ia tidak pernah bertemu lagi dengan gadis itu.
Soal kerudung itu Afrizal benar-benar serius. ”Sejak kapan kau berkerudung?” tanya Afrizal. ”Untuk apa kau tanya itu bila engkau hanya ingin mendikteku?”
” Waktu itu begitu penting Nur. Dari mengetahuinya aku bisa merangkai kaitan antara dulu, sekarang dan bagaimana dengan masa depan.”
”Sebuah perbuatan selalu ada kaitannya dengan motivasi. Dan dengan mengetahui motivasi itu aku bisa mereka-reka sesuatu kesimpulan tentangmu.”
”Kau ingat Afrizal, di suatu sore 3 bulan lalu, ketika itu aku sempat bilang bahwa aku ingin berubah? Mulai saat itulah keputusan itu ku ambil.”
Keduanya terdiam. Bergelut dengan pikirannya masing-masing, yang menelisik dari satu waktu ke waktu lain, dari satu kejadian ke kejadian lain.
Semua terasa begitu cepat. ”Iya tentu saja aku ingat. Kau mengalami masa sulit itu. Kau selalu gelisah, dan kemudian mengalihkan kegelisahan mu itu pada berbagai hal. Termasuk hura-hura.”
”Tapi yang aku dapatkan hanya kekecewan Zal.”
Di balik segala perubahan Nur Dian Sari, ada yang tidak bisa disangkal Afrizal.
”Kau tampak lebih cantik sekarang Nur. Jauh lebih cantik dari yang biasa ku lihat.” Afrizal memandang gadis berkerudung itu. Ada semacam garis rapi yang tampak menghias wajahnya. ”Keserasian. Itu mungkin yang membuat ia kelihatan cantik. Tepatnya lebih cantik. Karena kerudung ataukah karena memang wajahnya yang sudah anggun?
”Tapi aku rasa kedua-duanya. Kerudung putih itu semakin membuat ia enak dipandang,” guman Afrizal dalam hati.
Jika wanita lain yang memakainya Afrizal tak yakin akan bisa secantik itu. Sebenarnya Afrizal ingin mengatakan bahwa kecantikan yang sebenarnya bukan pada kerudungnya namun pada orangnya.
Berulangkali ia yakinkan. ”Benar. Memang benar apa yang ku pikirkan itu.”
Tapi Nur berulangkali menyangkalnya. ”Ah kau terlalu membesarkannya, Zal,” sanggahnya. ”Hanya perasaanmu saja. Sesekali jangan melihat sesuatu dengan perasaan”.
”Aku merasa biasa-biasa saja kok. Sama seperti kemaren.”
”Tapi aku yang melihatnya. Aku yang memperhatikannya. Dan seseorang tak bisa sepenuhnya melihat keburukan atau kebaikannya sendiri. Orang lainlah yang lebih bisa melihatnya.”
Afrizal sebenarnya tak ingin berdebat soal yang remeh temeh itu. Ia tak ingin besar-besarkan. Tapi karena Nur selalu menyangkal, ia jadi ingin terus menyakinkannya. Namun kini pikirannya melebar tak hanya soal kecantikan kerudung Nur, tetapi soal lain.
Mengapa seorang wanita muslimah mesti mengenakan kerudung? Mengapa aurat mesti ditutup? Dan sampai seberapa dosakah bila seorang wanita tidak mengenakan kerudung? Dan mengapa sampai Nur memutuskan untuk berkerudung. Di saat cuaca panas begini tentu ia akan begitu tersiksa. Dan Afrizal tak ingin Nur berkesusahan. Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggunung di kepalanya.
”Bukan kerudungnya yang penting Zal, tetapi bagaimana seorang muslimah itu bisa menjaga kehormatannya.” Kalimat Nur meluncur dari bibir manisnya, menjawab pertanyaan Afrizal yang begitu gencar.
Suasana menjadi sedikit panas. Angin kering menerpa keduanya dan sesekali menggoyang ujung kerudung putih Nur Dian Sari.
”Tapi betul bukan, kerudung yang kau pakai itu bagus?
”Zal, soal ini tidak begitu aku perhatikan. Yang penting adalah, dengan kerudung itu seorang muslimah bisa menjaga kehormatannya.”
”Kerudung itu soal fisik. Soal syariah yang memang diatur dalam agama. Namun sebenarnya bukan pada kerudungnya substansi mengapa seorang muslimah diwajibkan memakai kerudung.”
”Kau tahu Zal? Aku memakai kerudung karena aku ingin mengubah diriku. Bukan pada penampilanku. Tetapi lebih dari itu aku hanya ingin belajar bagaimana menjadi seorang muslimah yang baik. Jelas aku masih belajar, aku belum sepenuhnya menjadi muslimah yang baik.”
”Zal, memakai kerudung atau tidak, seseorang tetap bisa menjadi cantik. Seorang Dian Sastro, ia begitu cantik tanpa kerudung, juga Marshanda tetap memikat tanpa dibalut kain di kepalanya.”
”Namun soal kehormatan beda, Zal. Soal menjalankan agama juga berbeda. Mengenakan kerudung membuat seorang muslimah, setidaknya, telah berusaha untuk menjaga kehormatannya. ”
”Aku tak berkata bahwa mereka yang tak berkerudung itu tak bisa menjaga kehormatannya. Tidak. Bukan seperti itu. Namun orang yang berkerudung telah bergelut dengan sebuah pilihan. Kita bisa memilih apa yang mau kita lakukan. Sementara berkerudung adalah sebuah pilihan dari berbagai macam pilihan. Dan aku sudah memilihnya. Ketika itu aku terikat oleh suatu tali yang membuat aku tak seperti Dian Sastro atau Marshanda.”
”Apakah engkau mengira ketika memutuskan berkerudung tidak ada pengorbanannya? Zal, memakai kerudung itu mudah. Tinggal ke pasar, cari kerudung yang paling indah. Paling hanya butuh waktu sebentar untuk belajar memakainya. Mudah kan?”
”Tetapi tidak seperti itu Zal. Ketika seorang wanita memutuskan memakai kerudung, ia juga menerima berbagai macam implikasi. Sikapnya, tutur katanya, dan ibadahnya. Bahkan dalam soal pergaulan. Memilih menutup auratnya berarti mengorbankan penampilan yang urakan, merelakan kebebasannya berarti merelakan dirinya diatur oleh boleh dan tidak, dalam batas syariah. Dan itu lebih dalam maknanya.”
”Wanita tentu ingin terlihat cantik. Namun untuk seperti itu seorang wanita tak perlu memaksakan diri. Tidak perlu buka-bukaan atau bergaya yang tak etis. Kecantikan itu bisa datang tanpa itu.”
”Iya aku mengerti, namun bukan berarti engkau harus menjadi orang lain dengan kerudung itu bukan. Engkau adalah Nur Dian Sari yang selama ini aku kenal. Seorang periang, supel, mudah bergaul dengan siapapun, dan ..... ”
”Afrizal, Afrizal. Kau tak akan bisa mengerti bagaimana hatiku ini. Bagaimana saat aku memutuskan untuk berkerudung. Aku ingin berubah. Dan tentu ingin menjadi orang yang lebih baik itu tak mudah.”
”Aku masih dibayang-bayangi diriku yang kemarin. Tapi setiap orang pasti punya sisi gelap masa lalunya bukan? Apakah bila dulunya seorang penjahat tak bisa menjadi orang baik? Masa lalu bukan menjadi penghalang seseorang menapak kehidupan lebih baik, Zal.”
”Tampaknya manusia itu lebih mampu memahami sesuatu yang terlihat di luarnya saja. Sama seperti engkau Zal.”
Bukan begitu Nur. Aku mengerti bahwa engkau ingin berubah. Aku mendukungmu. Namun memahami keputusanmu juga tak bisa serta merta aku dapatkan. Hanya saja aku masih merasakan bahwa engkau tetap Nur yang kemaren, bukan yang sekarang.
”Semua akan bisa berjalan dengan normal seiring perjalan waktu Zal. Soal cantik atau tidak, tidak begitu penting bagiku sekarang. Aku hanya ingin merasakan diriku cantik di hadapan Tuhan. Semua itu akan kekal, Zal, sementara apa sekarang ada pada diriku, aku bersyukur pada Tuhan. Karena semua yang kita miliki harus kita syukuri.”
”Akan sangat lelah bila engkau selalu memikirkan apa yang engkau ingin dapatkan sementara yang engkau miliki tak kau syukuri.”
Izzatul pergi meninggalkan Afrizal yang masih termangu. Tapi ada satu kesimpulan yang Afrizal dapatkan. ”Engkau memang cantik Nur. Dan kecantikan itu bertambah, bukan lagi soal kerudung, tapi soal hatimu.”

..
dulu na pernah kirim cerpen ini untuk mbak p0e,,,mbak,mailQ cepet diBalez,,na mu ngirim sesuatu lagi....0k2^^
Semuanya,,,SEMANGAT!!!!! percayalah, langkah qt tidak akan selalu mulus, ketika kita mendaki satu anak tangga akan ada kekuatan yang akan menarik kita untuk jatuh lebih dalam, saat kita mendaki tangga sedekah misalnya, akan ada suara2 'merasa lebih kaya,lebih baik deElEl',saat kita mendaki tangga ilmu, saat itu akan ada rasa'Lebih pintar,lebih maju dan tidak mau dKritik...'
yuUpz semua sedang berusaha,
Jangan takut jika dibenci sese0rang di dunia ini,karena masih banyak yang mencintaimu di dunia,
tapi takutlah jika diBenci ALLAH,sebab tidak akan ada yang mencintaimu di Akhirat nanti.

Jumat, 04 Juli 2008

Aku Lebih Cinta Mati daripada Kamu!!!

Aku Lebih Cinta Mati daripada Kamu!!!

[Serius... ini fiksi lho, cuma sekedar cerpen iseng nan spontan]

“Say, aku cinta kamu!”

Akhwat yang diajak ngomong itu bengong. Jangankan tersentuh, kebayangpun nggak dengan apa yang barusan dicelotehkan si Cowok sableng itu.

“Ah… masa’ sih? Serius?” sahut si akhwat kesal.

“Seriuuuussss deh, aku cintaaaaaa banget sama kamu!” jawab si cowok dengan tampang memelas.

“Hmmm… kamu berani ngelamar aku hari ini juga?”

Si cowok diam, sekarang giliran dia yang bengong ditodong seperti itu.

Ngh… aku mau kok nikahin kamu, tapi… masak iya secepat itu?”, tanyanya ragu.

“Lho, emangnya kenapa?” tanya akhwat itu menantang.

“Ngh… ya… kita kan belom terlalu mengenal.” jawab si cowok sambil garuk-garuk kayak beruk diatas pohon kapuk.

“Lhah… nah, itu dia! Kok bisa kamu ngomong cintrong?”, introgasi si Akhwat berubah jadi segalak polwan baru lulus Sepolwan Pasar Jumat.

“Menurut aku kamu baek, pinter, solehah, bla bla bla…” jawabnya sambil terus mengabsen sifat si akhwat yang ada dalam bayangannya.

“Nah… nah… nah…” potong si Akhwat, “katanya nggak kenal aku. Tapi kok… kayaknya malah kamu yang lebih kenal diriku dibanding diriku sendiri?”.

Si cowok mati kutu… persis kayak kutu dipites pake kuku. Dia terdiam salting sambil sesekali menggaruk kepalanya yang nggak gatal sama sekali.

“Yo wis lah… gini deh, kalo emang kamu cinta sama aku, aku mau kamu ngaji! Mentoring sana… baru bilang cinta sama aku.”

Dengan garukan yang semakin keras, si cowok nggak berkata apa-apa. Cuma manggut-manggut walaupun bingung. Seumur-umur, dia ngaji cuman waktu SD, semasa masih ikut TPA. Itupun kabur-kaburan, berhubung harus mengejar jadwal rutin ‘penting’ seperti Satria Baja Hitam RX dan Saint Seiya yang dijamin mendidik anak-anak indonesia jadi superhero yang siap menyelamatkan profit perusahaan multi nasional dan diberdayakan jadi buruh elit di perusahaan asing.

Si cowok dengan langkah gontai berbalik meninggalkan medan pertempuran. Tapi… tiba-tiba langkahnya terhenti. Kayaknya masih ada yang mengganjal pikirannya yang sehari-hari gak pernah jauh dari analisis seputar pertandingan Serie A atau strategi memenangkan PES, WE, CM dan berbagai game lainnya. Dan iapun belum menyerah…

“Tapi… aku serius loh, Ful…” *berhubung sebenernya nama karakter nggak penting di cerita ini, kita kasih nama aja si Akhwat ini dengan Fulanah*

“Serius apa?” potong si Akhwat dengan nada lembut tapi nyelekit, menusuk dalam-dalam hati cowok yang kurang baik dan tidak rajin menabung itu.

“Ak… Aku…” katanya ragu, “Aku cinta kamu karena Allah lho!!” lanjutnya berusaha memberanikan diri. kata-kata itu terlintas begitu aja ketika dia ingat dengan sebuah artikel di blog saat disuruh membuat makalah kuliah Agama dan Etika Islam. Sejujur-jujurnya, Ia nggak tau pasti arti dari kata-kata itu secara persis.

*Gedubrak* Si Akhwat bingung antara harus geli dengan kata-kata itu atau pengen nonjok si pahlawan cinta monyet yang ia sendiri lupa kenal dimana. Pengen rasanya jurus pamungkas taekwondonya Ia keluarkan. Tapi tiba-tiba bidadari virtual nan cantik di sebelah kanannya berkata lembut, “sabar atuh ukhti… kesempatan nih, ayo dingajiin! Target potensial nih…”. Ia pun menarik nafas puaaaaannjjjjang, lalu…

“Huh… Iya deh… terserah kamu. Aku juga cinta kamu karena Allah…”

Betapa berbunga-bunganya si Cowok sableng itu mendengar kata ‘cinta’ yang ditujukan padanya.

“Tapi…” lanjut si Akhwat membuyarkan proyek kebon bunga yang baru saja menggusur lapangan bola di hati si Ikhwan, “pokoknya gak mau tau, aku pengen kamu mentoring dulu… Titik!!” lanjutnya sambil segera ngeloyor pergi dengan perasaan yang sudah mumet dengan serbuan mendadak si cowok di musim Ujian Akhir Semester kayak sekarang ini.

“Eh… eh…” sahut si Cowok kebingungan kayak pejabat korup ketangkep basah KPK.

“Seriuuuuuusss… Ful! Aku cinta mati sama kamu!” teriaknya pada si Akhwat yang semakin jauh.

Si Akhwat menoleh sebentar,

“Tapi aku lebih cinta mati daripada kamuuuu!!!” balasnya yang disambut dengan sunyi, bersamaan dengan semakin mematungnya si Ikhwan.

***

Sembilan bulan lebih sembilan hari kemudian…

Seorang ikhwan masuk kedalam mesjid bersama rombongan keluarganya dengan muka cengengesan yang nggak bisa ditahan. Dia menyapa beberapa temannya. Mereka adalah teman satu kelompok mentoringnya. Gerombolan anak nongkrong, yang sama-sama berusaha belajar tentang Tuhan dan Agamanya.

Begitu matanya melirik sedikit pada bidadari bergaun putih yang sudah sejak tadi nangkring di barisan Akhwat yang tersekat hijab, tiba-tiba dadanya kembang kempis. Terasa panas dingin bulu kuduknya melihat bidadari yang dalam hatinya yang paling dalam ia harapkan jadi pendampingnya di surga kelak. Si bidadari tertunduk saja, sama dag-dig-dugnya dengan calon presiden RRT (Republik Rumah Tangga) itu. Singkat cerita, prosesi akad berjalan lancar dan sukses walaupun sempat diwarnai kericuhan karena si Ikhwan saking gugupnya lupa dengan nama calon istrinya itu dan malah mengabsen mantan-mantan pacarnya semasa masih berandalan dulu. Setelah prosesi, kedua mempelai segera diboyong ke tahta mereka sebagai sepasang manusia paling bahagia di hari itu.

“Ful… ful…”

Di tengah langkah gemulai bak pameran busana pengantin, si Ikhwan tiba-tiba memanggil perempuan yang menggandengnya itu dengan setengah berbisik.

“Apa kang?” jawab si Akhwat malu-malu.

“A… aku cinta mati sama…”

“Ssst…” belum sempat melanjutkan, si Akhwat memberi isyarat kepada pangerannya itu untuk tidak melanjutkan.

“Aku lebih cinta mati daripada kamu.” lanjutnya dengan senyuman.

Si ikhwan termenung sebentar, lalu dengan senyum sumringah dia menanggapinya…

“Aku juga lebih cinta mati daripada kamu…” ucapnya berbisik, “Aku ingin mencintai mati, sama sepertimu.” lanjutnya dengan nada bersungguh-sungguh.

Bidadari itu menjawabnya dengan senyum. Senyum penuh arti yang diiringi lantunan doa yang sejak bertahun-tahun lalu begitu akrab dengan lisannya.


Dan ucapan pangerannya tadi menjadi hadiah paling romantis baginya di hari paling istimewa sepanjang hidupnya itu.

hehe..