Tampilkan postingan dengan label islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Juli 2008

chating due,,

....

pada suatu malam di depan sebuah monitor, seorang ikhwan sedang mengetik sesuatu

"....insya 4JJ1 bulan depan saya akan mengkhitbah ukhti...."

dua hari setelahnya, ketikan itu pun disampaikan ke yang ditujunya.

satu minggu setelah peristiwa pemberian surat, saat bulan purnama sedang ceria bermain dengan bintang, setelah hujan berganti gerimis. sang ikhwan sedang asik berpacaran dengan komputernya. disibukkan dengan gairah menjelajahi internet. tiba-tiba sebuah layar aktivitas messengger muncul, ternyata merupakan id sang akhwat yang minggu lalu dia kirimi surat.
filein : assalaamu'alaikumwarohmatullohiwabarokaatuh
rijal : wa'alaikumussalaamwarohmatullohiwabarokaatuh
filein : gimana kabarnya, akh?
rijal : alhamdulillah masih bisa hidup
filein : he...
rijal : ukhti sendiri gimana kabarnya? masih hidupkah?
filein : alhamdulillah masih diberi nikmat sehat
filein : akh, ada yang mau saya sampaikan. dirimu baik-baik saja kan?
rijal : ya... saya masih hidup. mau ngasih tau apa?
filein : dirimu sedang senang kan?
rijal : insya 4JJ1 i'm always happy
filein : bagus deh, begini akh....
5 menit berlalu
rijal : kok diem?
5 menit lagi berlalu
rijal : ukhti, masih hidup?
filein : maaf, mesenggernya error
rijal : oh... kirain jadi mau ngomongin apa? eh, mau ngetikin apa?
filein : begini akh, insya 4JJ1 minggu depan ada ikhwan yang mau mengkhitbah saya.
filein : beliau sudah berbicara ke abi.
5 menit berlalu
filein : akh, dirimu ga papa kan?
3 menit berlalu
filein : buzz
rijal : oh, maaf tadi dipanggil ibu. jadi tadi ada apa?
filein : wah panjang ceritanya, saya copas aja ya..
rijal : silakan
filein : begini akh, insya 4JJ1 minggu depan ada ikhwan yang mau mengkhitbah saya.
filein : beliau sudah berbicara ke abi.
rijal : oh....
filein : dirimu ga papa kan?

sang ikhwan terdiam, mengingat kembali kejadian saat hampir tiap malam ia mengirim sms tausyah, mengingat ketika sang akhwat memberinya hadiah buku Tips Cerdas Orang Malas. mengingat betapa akrabnya ia dengan dirinya...

filein : dirimu ga papa kan, akh?
filein : dipanggil ibu lagi?
rijal : ga, tadi tombol enternya keganjel
rijal : jadi kapan nikahnya?
filein : insya 4JJ1 masih dalam bulan ini
rijal : jangan lupa ngundang saya ya...
filein : insya 4JJ1

....


NB : kisah di atas berdasarkan kisah khayalan ga ada romantis2nya ya? tapi masih ada hubungannya dengan p0sting sebeLumnya k0...
buat semuana aj deh, jangan pernah menjanjikan sesuatu yang belum pasti kpd 0rLa ,,bukankah rencana ALLAH it indah?

putuskan cinta...

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh

Ba’da tahmid dan shalawat. . .

Syukur kepada ALLAH yang telah mengaruniakan nafas padaku dan padamu untuk segera memperbarui taubat.

Akhi, rasanya aku talah menemukan Kekasih yang jauh lebih baik darimu. Yang Tak Pernah Mengantuk dan Tak Pernah Tidur. Yang siap terus Memperhatikan dan Mengurusku. Yang selalu bersedia berduaan di sepertiga malam terakhir. Yang siap memberikan apapun yang kupinta. Ia yang Bertahta, Berkuasa dan Memiliki Segalanya.

Maaf akhi, tapi menurutku kau bukan apa – apa dibanding Dia. Kau sangat lemah, kecil dan kerdil di hadapanNya. Ia berbuat apa saja sekehendakNya kepadamu. Dan, akhi, aku khawatir apa yang telah kita lakukan selama ini membuatNya cemburu. Aku takut, hubungan kita selama ini membuatNYa murka. Padahal Ia, Maha Kuat, Maha Gagah, Maha Perkasa, Maha Keras SiksaNya.

Akhi, belum terlambat untuk bertaubat. Apa yang telah kita lakukan selama ini pasti akan ditanyakan olehNya. Ia bisa marah akhi. Marah tentang saling pandang yang kita lakukan, marah karena perkataan dalam percakapan ‘haram’ kita, marah karena SMS kita, marah karena suatu ketika dengan terpaksa aku harus membonceng motormu, marah karena perjalanan yang pernah kita lakukan, meski tak sepengetahuan orang lain, atau terkadang berbagai cara kita lakukan agar kita tidak pergi berdua saja dengan dalih ditemani muhrim, marah karena kebohongan yang telah kita lakukan kepada orang lain, atau tentang lamunanku yang selalu membayangkan wajahmu. Ia bisa Marah. Tapi sekali lagi, semua belum terlambat. Kalau kita memutuskan hubungan ini sekarang, semoga Ia mau Memaafkan dan Mengampuni. Akhi, Ia Maha Pengampun, Maha Pemberi Maaf, Maha Menerima Taubat, Maha Penyayang, dan Maha Bijaksana.

Akhi, jangan marah ya. Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan cintaku padaNya, tidak pada selainNya. Tapi tak cuma aku, akhi. Kau pun bisa menjadi kekasihNya, kekasih yang amat dicintai dan dimuliakan. Caranya satu, kita harus jauhi semua larangan – laranganNya termasuk dalam soal hubungan kita ini. InsyaALLAH Dia punya rencana yang indah untuk masa depan kita masing – masing. Kalau engkau selalu berusaha menjaga diri hal – hal yang dibenciNya, kau pasti dipertemukan dengan wanita shalihah. Ya, wanita shalihah yang pasti lebih baik dari diriku saat ini. Ia akan membantumu menjaga agamamu, agar hidupmu senantiasa dalam kerangka mencari ridho ALLAH dalam ikatan perkawinan yang suci. Ini adalah doaku untukmu akhi, semoga kau pun mendoakanku.

Akhi, aku akan segera menghapus namamu dari memori masa lalu yang salah ini. Tapi aku akan selalu menghormatimu sebagai saudara di jalan ALLAH . Ya, saudara di jalanALLAH , akhi.Itulah ikatan terbaik. Tak hanya antara kita berdua, tapi seluruh orang mukmin di dunia. Tak mustahil, itulah yang akan mempertemukan kita dengan Rasulullah di telaganya, lalu beliaupun memberi minum kita dengan air yang lebih manis dari madu,lebih lembut dari susu, dan lebih sejuk dari krim beku.

Maaf akhi. Tak baik rasanya aku berlama – lama menulis surat ini. Aku takut ini merusak hati. Goresan pena terakhirku di surat ini adalah doa keselamatan dunia akhirat sekaligus tanda akhir dari hubungan haram kita, InsyaALLAH

Wassalaamu ’alaikum wa rohmatullaahi wa barokaatuh



semoga surat ini bisa menjadikan sese0rang di sana menjadi 'ingat'...
amiin..

Senin, 30 Juni 2008

Ibu,mengapa menangis?

IBU, MENGAPA MENANGIS?

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak". "Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?"Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan."Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?"Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,"Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, danmengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada
bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan
jantung agar tak terkoyak?Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk
memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang
diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkanperasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan".

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup

Jumat, 21 Maret 2008

cemburu


Assamualaikum,,

Cemburu merupakan pembawaan kaum wanita. Tidak jarang seorang wanita cemburu gara-gara perkara yang sepele. Karena itu seorang suami harus menjaga diri terhadap hal yang demikian dan hendaknya jangan sampai keliru dalam meluruskan masalahnya.

Ini jika sang istri tidak berkepanjangan dalam kecemburuannya. Jika ternyata terus berkepanjangan dalam kecemburuannya, maka tentu setiap keadaan mempunyai cara sendirisendiri untuk mengatasinya.

Dahulu istri-istri Nabi juga cemburu, apalagi wanita-wanita jaman sekarang yang lebih banyak dikuasai oleh setan. Terdapat banyak hadits tentang kisah cemburunya istri istri Nabi ; di antaranya:

Hadits `Aisyah yang mengatakan, yang artinya:

Tidakkah ingin aku ceritakan kepadamu tentang aku dan nabi? Ketika suatu malam giliranku bersama nabi, beliau membalikkan badan, dan meletakkan sandalnya di sebelah kakinya dalam keadaan masih terbaring.

Kemudian beliau menyingkirkan ujung kainnya ke pembaringannya. Sesaat beliau tetap dalam pembaringannya sampai beliau menyangka kalau aku sudah tidur. Setelah itu beliau perlaha-lahan mengenakan sandalnya, mengambil kain selendangnya perlahan-lahan, membuka pintu perlahan-lahan dan keluar perlahan-lahan.

Akupun kemudian mengenakan pakaianku mulai dari atas kepala, aku kenakan kerudungku dan aku tutupkan kainku ke tubuhku lalu aku berjalan mengikuti jejak Nabi hingga akhirnya beliau sampai di (kuburan) Bagi’. Beliau mengangkat kedua tangannya (berdoa) tiga kali. Beliau lama dalam berdoa.

Setelah itu beliau bergeser pergi, akupun bergeser pergi, beliau mempercepat iangkahnya, akupun mmpercepat langkahku. beliau berlari-lari kecil, akupun berlari -lari kecil, beliau tergesa-gesa, akupun tergesa-gesa, sehingga aku dapat mendahuluinya. Selanjutnya aku masuk rumah dan berbaring kembali. Kemudian Rasulullah masuk pula seraya bersabda:
“Mengapa engkau wahai Aisyah? Engkau tersengal-sengal?”

Aisyah menjawab: “Tidak.”

Beliau bekata: “Engkau harus menceritakan kepadaku atau Allah Yang Maha Lembut dan Maha Tahu yang akan menceritakannya kepadaku.”

Aku (Aisyah) berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh….” Lalu Aisyah menceritakan kisahnya. Beliau lalu bersabda: “Adakah engkau seorang yang tadi aku lihat di hadapanku?”

Aisyah menjawab: “Ya”

Kemudian rasullah menepuk dadaku dengan suatu tepukan hingga terasa sakit. Beliaupun bersabda: “Apakah engkau mengira bahwa Allah dan Rasul-Nya akan mendzhalimi kamu?”

Aku (Aisyah) berkata: “Betapapun orang menyembunyikan sesuatu, Allah pasti mengetahuinya” (1)

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Jibril datang kepadaku ketika engkau (tadi) melihat(ku). Ia (Jibrii) tidak datang kepadamu sedangkan engkau sudah melepaskan pakaianmu. Jibril memaiiggilku, maka aku bersembunyi-sembunyi dari pandanganmu. Saya suka jika saya menyembunyikan diri darimu,

Kemudian saya kira kamu sudah tidur, saya tidak suka jika harus membangunkanmu dan saya khawatir jika kamu ketakutan. Jibril memerintahkan aku supaya datang ke (kuburan) Baqi untuk kemudian aku memohonkan ampun kepada Allah buat mereka (orang-orang yang dikubur di Baqi).”

Aku (Aisyah) berkata: “Wahai rasulullah apa yang harus aku ucapkan (ketika datang ke kuburan) ?”

Beliau bersabda: “Ucapkanlah doa:

Keselamatan hendaknya tercurah kepada penghuni kubur dari kalangan kaum mukminin dan kaum muslimin, semoga Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang mati terdahulu dan yang mati kemudian. Dan kami insya Allah akan menyusul kemudian.” (2)

Hadits yang lainnya lagi adalah juga hadits Aisyah,

Saya mencari Rasulullah, kemudian tangan saya, saya selusupkan ke rambutnya. maka Nabi bersabda: “Apakah setanmu sedang datang?” Saya menjawab: “Apakah engkau tidak mempunyai setan?”. Beliau menjawab:
“Punya, tetapi Allah menolongku dari godaan setan itu sehingga is masuk Islam.” (3)
Teks kalimat yang ada dalam riwayat Muslim lebih jelas lagi dalam menjelaskan maksud hadits di atas. Dalam riwayat Muslim tersebut terdapat perkataan Aisyah sebagai berikut:

Rasulullah, telah keluar dari rumah Aisyah, is (Aisyah) berkata: “Saya cemburu terhadapnya”.(2) Kemudian Rasulullah datang dan melihat apa yang aku lakukan. Maka beliau bersabda: “Mengapa engkau wahai Aisyah, apakah engkau cemburu?”

Aku menjawab: “Mengapa orang semacam saya tidak cemburu terhadap orang seperti anda?”. Nabi bersabda: “Ataukah setanmu sedang datang kepadamu?” al-Hadits. (4)

Demikian pu!a perkataan Aisyah dalam hadits berikut ini:

Pada suatu malam saya kehilangan Rasulullah Saya menyangka beliau pergi ke istri yang lain. Lalu saya selidiki beliau, ternyata beliau sedang ruku’ atau sujud sambil berdo’a: “Maha suci Engkau dan MahaTerpuji Engkau, tiada sesembahan yang benar melainkan Engkau.” Maka saya berkata: “Sungguh-sungguh anda dalam keadaan satu keadaan (ibadah), sedang saya dalam keadaan lain (digoda oleh rasa cemburu).” (Hadits shahih yang dikeluarkan oleh Muslim: I/351-352; Abdul Baqi, An-Nasi’i VII/72, ath-Thayalisi 1405 dan Iainnya).

Sabtu, 01 Maret 2008

jawaban atas bisikan iblis



10 Jawaban Mengatasi Bisikan Iblis

Ada sepuluh cara setidaknya, agar kita bisa menjawab godaan setan yang selalu ingin menjerumuskan kita ke jurang neraka. Cara praktis mengusir iblis dan bala tentaranya itu tertuang nasihat seorang ulama dalam dialog antara manusia dan iblis:

1. Jika ia datang kepadamu dan berkata:" Anakmu mati," katakan kepadanya : Sesungguhnya mahluk hidup diciptakan untuk mati, dan penggalan mdariku(putraku) akan masuk surga. Dan hal itu membuatku bahagia".

2. Jika ia datang kepadamu dan berkata:" Hartamu musnah," katakan kepadanya : "Segala puji bagi Allah Zat Yang Maha Memberi dan Mengambil, dan menggugurkan atasku kewajiban zakat."

3. Jika ia datang kepadamu dan berkata:" Orang-orang menzalimimu sedangkan kamu tidak menzalimi seorangpun." maka katakan kepadanya : "Siksaan akan menimpa orang-orang yang berbuat zalim dan tidak menimpa orang-orang yang berbuat kebajikan (Mukhsinin)".

4. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata: "Betapa banyak kebaikanmu," dengan tujuan menjerumuskan untuk bangga diri(Ujub). Maka katakan kepadanya: "Kejelekan-kejelekanku jauh lebih banyak dari pada kebaikanku".

5. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata:"Alangkah banyaknya shalatmu". Maka katakan : "Kelalaianku lebih banyak dibanding shalatku".

6. Dan jika ia datang dan berkata: "Betapa banyak kamu bersedekah kepada orang-orang". Maka katakan kepadanya: "Apa yang saya terima dari Allah jauh lebih banyak dari yang saya sedekahkan".

7. Dan jika ia berkata kepadamu : "Betapa banyak orang yang menzalimimu". Maka katakan kepadanya : "Orang-orang yang kuzalimi lebih banyak".


8. Dan jika ia berkata kepadamu : "Betapa banyak amalmu". Maka katakan kepadanya: "Betapa seringnya aku bermaksiat".

9. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata: "Minumlah minuman-minuman keras!". Maka katakan : "Saya tidak akan mengerjakan maksiat".

10. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata: "Mengapa kamu tidak mencintai dunia?". Maka katakan : "Aku tidak mencintainya dan telah banyak orang lain yang tertipu olehnya".

Rahim




Adakah anggota tubuh manusia yang memakai nama terambil dari akar kata salah satu Asmâ al-Husnâ (nama-nama yang terbaik Allah)? Mari kita berpikir sejenak! Apa jawabannya? Bukankah jawabannya adalah Rahim? Yah, satu-satunya anggota tubuh manusia yang memakai nama-Nya, hanya rahim, dan ini ada hanya pada perempuan. Allah sendiri, dalam sebuah hadis Qudsi, menegaskan hal itu, "Aku adalah Ar-Rahmân, Aku menciptakan rahim, Ku-ambilkan untuknya nama yang berakar dari nama-Ku. Siapa yang menyambungkannya (silaturahmin) akan Ku-sambungkan (rahmat-Ku) untuknya dan siapa yang memutuskannya Kuputuskan (rahmat-Ku baginya." (HR. Abu Daud & At-Tirmidzi)

Tentu saja, penamaan ini, bukan kebetulan. Melainkan sebuah password (kata kunci) yang Allah Swt. berikan kepada kita agar kita bisa mengungkap misteri di balik penamaan tersebut. Supaya mutiara hikmahnya terkuak, maka mari kita selami makna kata "rahim" tersebut secara bahasa!

Kata "rahim" berasal dari bahasa Arab. Kata ini diambil dari akar katanya, yaitu rahmat. Dan Quraish Shihab dalam bukunya; "Menyingkap Tabir Ilahi" (Lentera Hati, 2001), mengatakan bahwa menurut ahli bahasa Arab Ibnu Faris (wafat 395 H) semua kata yang terdiri dari huruf-huruf Râ, Hâ, dan Mîm, mengandung makna "kelemahlembutan, kasih sayang, dan kehalusan."

Dalam Al-Quran, kata yang berasal dari tiga huruf itu disebutkan sebanyak 177 kali, kata Ar-Rahmân terulang 57 kali, kata Ar-Rahîm sebanyak 97 kali, dan sisanya dalam bentuk kata kerja. Sedangkan penggunaan kata rahim dengan makna tempat penciptaan manusia; kandungan, terulang sebanyak 7 kali.

Dari tinjauan secara bahasa tersebut, kata rahim mengandung filosofis dan hikmah yang harus kita renungkan bersama. Dalam hadis Qudsi di atas, ketika Allah Swt. memberitahu kita bahwa Dia menciptakan rahim dan penamaannya diambil dari nama-Nya, maka ini menegaskan kepada kita bahwa Allah Swt. sebagai Khâliq (Pencipta) dan keberadaan kita adalah bukti dari rahmân dan rahîm Allah Swt.

Tanpa rahmat-Nya, maka kita tidak pernah ada. Betapa tidak, coba kita bayangkan, kita bermula dari air yang kita anggap hina; dari setetes mani (sperma) yang dipancarkan dalam rahim untuk membuahi sel telur (ovum). Dari pembuahan ini, jadilah nuthfah (zigota). Kemudian, nuthfah yang bercampur itu menjadi dua sel, lalu dua sel itu membelah menjadi empat. Empat sel itu, terus membelah dan berkembang, jadilah 'alaqah (segumpal darah; implantasi), lalu menjadi mudhghah (segumpal daging; embrio). Lalu, mudhghah itu menjadi segumpal tulang, akhirnya tulang-belulang itu dibungkus daging, maka jadilah janin yang sempurna anggota tubuhnya. Pernahkah kita memikirkan, bagaimana bisa terjadi dari satu sel yang sama bisa menjadi sesuatu yang berbeda, ada yang jadi otak, kepala, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan? Apakah pembelahan dan perkembangan sel-sel itu terjadi dengan sendirinya? Tentu saja, pertanyaan ini akan terjawab, bila kita memahami makna hadis qudsi di atas, yaitu Allahlah yang menciptakan semua itu.

Yang lebih menarik lagi adalah bagaimana Al-Quran dan Al-Hadis Nabi bisa berbicara tentang sesuatu yang terjadi dalam rahim, padahal ilmu kedokteran, terutama ilmu kandungan, lahir setelah 14 abad kemudian? Suatu hal yang mustahil, jika Muhammad Saw. bukan seorang nabi, bisa menjelaskan kejadian di alam rahim. Selain beliau ummi (buta huruf), juga waktu itu belum ditemukan peralatan untuk melihat proses kejadian manusia dalam rahim. Subhanallâh, inilah bukti bahwa Muhammad Saw. adalah seorang nabi dan rasul, serta ajaran yang beliau sampaikan benar-benar dari Allah rabbul 'âlamîn.

Lantas, seperti apakah penjelasan Allah dan rasul-Nya itu? Dalam Al-Quran, Allah Swt. memaparkan kejadian kita dimulai dari suatu masa yang belum dapat disebut. Fase ini, dalam ilmu psikologi, dikenal dengan istilah masa konsepsi. Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut. (QS. Al-Insân [76]:1)

Mengapa masa ini disebut "belum merupakan sesuatu yang dapat disebut"? Wallâhu a'lâm. Ada dua kemungkinan untuk menjawab hal ini. Pertama, pada masa ini, kita masih berupa pembelahan sel. Sebab, hingga akhir minggu keempat, kita belum dapat mengenal anggota tubuh tertentu. Penjelasan kedua, sebab pada fase ini rûh belum ditiupkan oleh Allah Swt. dalam tubuh kita. Sedangkan yang disebut manusia adalah perpaduan dari jasad dan ruhani.
Secara gamblang dan runtut, Allah Swt. memaparkan proses kejadian kita. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik (QS. Al-Mu'minûn [23]:12-14).

Adapun dalam hadis, nabi Muhammad Saw. bersabda, "Sesungguhnya setiap orang diantara kalian penciptaannya dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nuthfah. Kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, lantas malaikat dikirim untuk menghembuskan ruh padanya. Dan malaikat diperintah untuk menuliskan tentang rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya." (HR. Bukhari)

Itulah proses kejadian kita secara jasadiyah. Untuk lebih lengkap dan detailnya, sebaiknya Anda baca langsung dari buku-buku kedokteran atau buku yang secara khusus membahasnya. Sebab, terlalu panjang, dan kurang relevan kita bicarakan dalam buku ini. Sekarang yang patut kita renungkan, yaitu tentang sperma.

Satu tetes sperma mengandung sekitar dua juta sel sperma, dan yang dibutuhkan untuk membuahi sel telur hanya satu sel sperma. Jadi, tidak semua sperma membuahi sel telur. Hal ini ditegaskan oleh baginda nabi, "Tidak setiap mani (sperma) itu menjadi anak." (HR. Muslim) Lalu, apakah penciptaan jutaan sel sperma itu sesuatu yang sia-sia? Tentu saja tidak, sebab tidak ada yang sia-sia bagi perbuatan Allah Swt. (QS. Ali Imran [3]:191). Ini Allah Swt. lakukan, agar kita mengambil hikmah dari proses penciptaan kita. Lantas, apa hikmahnya?

Kalau sel sperma itu berjumlah dua juta dan hanya satu yang bisa membuahi sel telur, berarti terjadi kompetisi diantara mereka, maka sel yang bisa bertemu dengan sel telur itu adalah sel sperma yang terbaik. Sperma pilihan. Ini sel sperma yang mendapatkan kasih sayang dari Allah Swt. Di alam rahim ini terjadi penyeleksian bibit yang terbaik. Maka siapapun yang terlahir di muka bumi punya peluang untuk menjadi yang terbaik, sebab di alam rahim telah memiliki prestasi menjadi Sperma Terbaik.

Setelah bentuk kita sempurna, maka Allah meniupkan ruh, dalam jasad kita. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (QS. Al-Sajdah [32]:9). Selanjutnya, mengadakan perjanjian diantara kita dengan-Nya. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu". Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) (QS. Al'A'râf [7]:172).

Dalam perjanjian itu, seolah-olah, kita berjanji untuk tidak melupakan kasih sayang Allah Swt. setelah nanti kita lahir di muka bumi ini. Selama di alam rahim ini, kita telah mendapatkan begitu banyak kasih sayang-Nya, maka jangan sampai hal itu kita lupakan. Tanpa kasih sayang-Nya, maka mana mungkin nuthfah (sperma) itu bisa berubah menjadi manusia. Sebab, pada akhir fase mudhgah, malaikat yang mengurus proses penciptaan kita, akan bertanya kepada Allah Swt., apakah proses dilanjutkan atau tidak. Allahlah yang memutuskan, apakah tidak terjadi tercipta. Hal ini yang diungkapkan oleh rasulullah Saw. dalam hadis, "Jika nuthfah berada dalam rahim, malaikat berkata: "Wahai Allah, apakah ini diciptakan atau tidak?" Jika Allah berfirman tidak diciptakan, maka rahim itu akan mengeluarkannya (dalam bentuk darah)." (HR. Ibnu Abu Hatim)

Di alam ruh ini, kita juga merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Sehingga ibu kita selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari sangat begitu hati-hati memilih apa yang beliau makan, minum, dan yang beliau lakukan. Jadi, kita mendapatkan curahan kasih sayang dari Allah Swt. dan ibu secara sekaligus. Maka wajar saja jika tempat kita bersemanyam pertama kali ini disebut rahim, sebab di tempat ini kita mendapatkan kasih sayang penuh.
wallahu'alam bishowab

Senin, 21 Januari 2008

tetes embun

Assalamu'alaikumwrwb,,,
na baru aja nulis cerpen,
baca yah!
Wajik Klethik Mbah

Ulin menatap langit-lngit kosnya. Pandangannya menerawang berharap menembus cakrawala, menemukan pisau membedah pikirannya. Beberapa tumpukan buku kimia teronggok di sudut ruangan, angin sepi meniupkan jarak antara Ulin dengan teman kosnya yang sejak tadi duduk sambil membolak-balik majalah. Suasana sepi itu terpecah oleh detik jam dinding yang mengejek kebisuan malam ini.
“Lin, apa keputusanmu?”
Ulin tak menjawab. Ia tetap tidak mengalihkan pandangan dari langit-langit kosnya. Mungkin ia sendiri tak mendengar pertanyaan Digma, temannya.
“Lin, kamu jadi pulang, kan?” Tanya Digma sekali lagi sambil mendekati Ulin. “Entahlah Dig, sebenarnya aku ingin sekali pulang, tapi tugasku di sini masih menumpuk. Banyak tugas presentasi yang belum kubuat, beberapa literatur buku polimer logam juga belum kudapatkan. Aku pusing sekali Dig….” Kata Ulin sambil mengembuskan napas dengan keras.
“Kalau menurutku kamu sebaiknya pulang Lin.”
“Aku ingin sekali pulang tapi kau tahu sendiri keadaanku,” Ulin berkata lirih sambil memejamkan mata, pikirannya melayang jauh ketika ia masih di Solo. Di Solo, Ulin tinggal bersama ayah, Ibu dan mbahnya. Saat itu Ulin adalah siswi di sebuah Madrasah Aliyah Negeri di Solo. Di kelas Ulin termasuk murid yang pandai, ia selalu mendapatkan peringkat 10 besar di kelas. Memasuki kelas 3, Ulin mulai berpikir untuk memilih PTN yang ia inginkan.
Malam itu setelah sholat isya’ berjamaah bersama keluarganya, Ulin menyampaikan isi hatinya.
“Bapak, Ibu, Mbah….” Kata Ulin lirih sambil menahan gemuruh di dadanya, hatinya kebat-kebit, Ia mengambil napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
“Kenapa, Nduk?” Sahut Bapaknya.
“Ulin kan sudah kelas tiga, Ulin ingin kuliah di kota lain,”ucap Ulin hati-hati.
“Oalah nduk….kuliah kok jauh-jauh apa di Solo ndak ada?” mbahnya langsung merespon Ulin.
Bapak masih terdiam, keningnya berkerut, Ia sedang berpikir. Di samping Beliau, Ibu juga terdiam menunggu kata-kata suaminya. Ulin sudah menduga bahwa tidaklah mudah bagi keluarganya untuk meluluskan keinginannya.
“Lin…” kata Bapak denan suara berat. “Kalau kamu kuliah di luar kota, siapa yang akan ngurus kamu, Nduk, kamu akan jauh dari keluarga. Bapak ndak tega, Nduk,” ujar Bapak.
Suasana kembali hening, hanya suara jangkrik yang memecah heningnya malam. Sesaat kemudian Ulin mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menanggapi ujaran Bapaknya.
“Ulin sudah memikirkan hal itu ,Pak. Bapak tidak usah khawatir, Ulin kan sudah besar, sudah bisa mengurus diri sendiri,” ucap ulin mencoba menyakinkan keluarganya.
“Ndak! Pokoknya kamu ndak boleh kuliah jauh-jauh, kuliah kan bisa di Solo, dekat dengan rumah. Mbah ndak setuju,” kata Mbah hampir menangis.
“Ibu, sudah tenang dulu, kita dengarkan alasan Ulin,” kata Ibu sambil memberi kode pada Ulin untuk meneruskan kata-katanya.
Tenggorokan Ulin terasa tercekat, Ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
“Pak, Bu, Mbah, Ulin ingin cari pengalaman di kota lain, Ulin tahu kalian mengkhawatirkan Ulin, tapi Ulin ingin mengejar cita-cita di kota lain. Ulin punya cita-cita yang ingin Ulin raih dan cita-cita itu bukan di Solo,” kata Ulin perlahan.
“Bukan di Solo? Lalu di mana, Nduk?” Ibu angkat bicara.
“Jakarta….,” ujar Ulin lirih
“Oalah Nduk, Jakarta itu jauh….apa kamu ndak kejauhan kuliahnya?” Tanya Mbah.
“Mbah, Jakarta itu ndak jauh kok, nanti kalau Ulin kangen rumah Ulin bisa pulang sendiri..” ujar Ulin
“Kenapa mesti Jakarta, Nduk?” Tanya Bapak sambil menatap buah hatinya.
“Di Jakarta mutu pendidikannya jauh lebih baik daripada disini, Pak. Lagi pula Ulin ingin menambah pengalaman. Ulin ingin punya teman dari banyak daerah, kalau Ulin kuliah di sini, Ulin tidak bisa mendapatkan itu semua…”
“Mbah pokoknya ndak setuju!” kata Mbah sambil pergi meninggalkan Bapak, Ibu dan Ulin.
“Ya sudahlah, biarkan Mbahmu menenangkan diri, kalau kamu memang maunya begitu Bapak sih setuju saja. Kami anggap kamu tahu yang terbaik bagi kamu,”ujar Bapak.
Ulin lega sekali mendengar hal itu. Niatnya untuk kuliah di Jakarta direstui oleh orang tuanya, walaupun Mbahnya masih belum setuju.
“O ya, Pak, Ulin ingin masuk Teknik,”ujar Ulin lirih.
“Apa-apaan kamu! Teknik? Wis tho ndak usah neko-neko, kamu itu perempuan. Tidak ada silsilah keluarga yang masuk Teknik. Keluarga kita keluarga santri. Bapak ndak sanggup melihatmu masuk Teknik dan berbaur di lapangan bersama puluhan laki-laki yang tak satu pun di antara mereka muhrim kamu. Bapak lebih suka kamu masuk keguruan, kamu jadi guru, mengajarkan ilmu pada orang ain dan amal jariahmu terus mengalir Nduk…”
“Pak, Arsitek, Insinyur,dan Ilmuan juga berguna untuk orang lain. Islam juga butuh Arsitek, Insinyur,dan Ilmuan. Pak, Bu, Ulin mohon…Ulin ndak mau jadi anak durhaka. Ulin mohon Bapak dan Ibu restui langkah yang akan Ulin ambil,” ujar Ulin hati-hati.
Rupanya malam itu menjadi malam yang berat bagi Ulin. Ia harus berusaha meyakinkan orang tuanya agar meluluskan keinginannya. Usaha Ulin berbuah hasil, Bapak dan Ibu setuju.
Berbulan-bulan Ulin belajar giat agar dapat lolos SPMB dan diterima di PTN yang ia inginkan. Saat SPMB, Ulin lolos dan diterima di PTN yang ia inginkan. Seluruh keluarga menyambut berita itu dengan suka cita, kecuali Mbah. Hal itu terlihat jelas saat keberangkatan Ulin ke Jakarta, Mbah tidak mau mengantar. Hati Ulin bagai teriris sembilu, sungguh ia tak ingin menyakiti Mbahnya. Ia tahu Mbahnya tak ingin kehilangan dirinya tetapi Ulin pun tak ingin cita-citanya terempas begitu saja.
Satu bulan Ulin di Jakarta, ia pulang untuk melepas rindu pada keluarganya. Begitu ia melangkah memasuki rumah, keluarganya menyambut gembira.
“Oalah Nduk, kamu kok lama sekali baru pulang. Mbah kangen,Nduk…,” kata Mbah sambil menciumi Ulin.
Ulin senang Mbahnya sudah bisa menerima keadaan. Namun sayang, saat-saat indah itu pun harus berakhir ketika Ulin akan kembali ke Jakarta. Agaknya rasa sayang Mbah pada Ulin mampu menggeser duka pada ceria. Ulin kembali ke Jakarta diantar oleh seluruh anggota keluarganya, termasuk Mbah.
Memasuki semester ke-3, tugas-tugas yang bejibun memaksa Ulin untuk berlama-lama di Jakarta dan jarang pulang ke Solo, Ulin sebenarnya juga merindukan rumahnya di Solo tapi apa mau dikata, ia tidak ingin tugasnya menumpuk, namun kali ini kerinduan yang membuncah di dadanya tak tertahankan lagi.
“Aku mau pulang, Dig, aku merindukan Mbah. Kamu benar, Beliau sedang sakit, Beliau membutuhkan aku di sisinya. Tugasku penting tapi Mbahku jauh lebih penting,”kata Ulin sambil bangun dari tempat tidurnya.
“Iya Lin, kamu mengambil keputusan yang tepat, ayo berkemas, akan kubantu,”ujar Digma semangat.
Ulin segera meraih tas ransel di bawah meja, Ia mengambil beberapa potong baju dari dalam almari lalu memasukkannya ke dalam tas dibantu Digma.

****
“Apa Ulin sudah memberi kabar, Bu?” Bapak menunggu kedatangan Ulin dengan cemas.
“Iya, Pak, tadi pagi dia telepon, katanya hari ini dia akan sampai sekitar jam lima sore, kita tunggu saja, Pak,” ujar Ibu menenangkan Bapak.
Sudah sekitar pukul setengah enam sore, Ulin belum juga tiba, Bapak dan Ibu melai cemas, ibu berkali-kali menelpon ke handphone Ulin, tetapi sedang tidak aktif.
“Duh, Pak. Bapak coba susul Ulin ke terminal sana, ibu jadi cemas,” kata Ibu cemas.
Dari dalam kamar nenek terdengar suara batuk, Ibu dan Bapak segera masuk untuk melihat nenek.
“Uhuk-uhuk! Mana Ulin, kok belum datang uhuk-uhuk!”
“Ulin masih di jalan Bu, sebentar mau saya susul ke terminal, siapa tahu dia lagi nunggu angkot buat ke sini,” kata Bapak sambil mengambil jaket dan bersiap ke luar. Beberapa langkah keluar dari kamar nenek, Ibu berlari kecil menyusul.
“Pak, nanti jangan lupa beli obat buat ibu ya, obatnya tinggal sedikit,” kata Ibu mengingatkan.
Bapak mengiyakan kata-kata ibu lalu mengeluarkan sepeda motor dari garasi. Beberapa saat kemudian Bapak melaju dengan motornya. Bapak mengendarai motor dengan pikiran yang kacau. Beliau mencemaskan Ulin, anak perempuan satu-satunya di keluarganya, yang sampai sekarang belum tiba di rumah. Langit sudah mulai gelap. Bapak semakin mempercepat laju sepeda motornya. Saat sampai di depan pertigaan pasar, Bapak melihat sosok berjilbab biru yang amat dikenalnya. Ulin!
Bapak menghentikan sepeda motornya tepat di depan Ulin.
“Lin, ngapain kamu disini? Bapak, Ibu sama Mbah itu cemas nungguin kamu! Bentak Bapak sambil menatap tajam Ulin.
“Maaf, Pak tadi Ulin beli wajik klethik kesukaan Mbah, Mbah kan sakit pasti senang kalau Ulin bawain wajik klethik…”
“Lha terus kenapa masih di sini?”
“Ulin ketinggalan angkot , Pak,” ucapUlin dengan wajah penuh sesal,” Ulin minta maaf, Pak sudah membuat keluarga cemas,” sambung Ulin.
“Yo wis, yo wis. Ayo kita pulang, Mbah sudah nungguin kamu!”
Ulin segera duduk di belakang Bapaknya. Ada sedikit sesal yang merayap di dadanya, Ah kalau saja aku tak ketinggalan angkot, batinnya.
Sepeda motor itu melaju kencang menembus pekatnya malam. Udara dingin mulai menusuk pori-pori kulit Ulin. Sesampainya di pertigaan dekat rumahnya,tiba-tiba SRETTT!!!Sebuah sepeda motor hamper menabrak Ulin dan Bapaknya.
“Woi…dasar wong edan,malam-malam ngebut di jalan raya,dikira jalan milik nenek moyang kamu tho,”Bapak marah marah kepada pengendara sepeda motor itu. Sayang, orang itu justru melaju semakin kencang.Tiba-tiba Ulin merasakan hawa dingin yang berbeda. Ada perasaan tak enak yang hinggap di hatinya,tapi ia segera menepisnya.
Beberapa saat kemudian, Ulin dan Bapak sampai di halaman rumah. Ulin membawa tas plastik berisi wajik kletik kesukaan Mbahnya.
Sesampainya di teras, Ulin dan Bapak kaget melihat kerumunan di rumahnya. Perasaan tidak enak seketika menjalar di hati mereka. Seorang tetangga, Bu Suti, keluar dengan berlinangan air mata. Ia berlari menuju Ulin.
“Lin, Mbahmu, Nduk…”
“Mbahmu, … Mbahmu Nduk…” Bu Suti tidak bisa meneruskan kalimatnya. Ulin terdiam. Ia tak perlu mendengar apa-apa lagi, ia sudah bisa membaca apa yang terjadi.
Tiba-tiba ia merasa gelap.