Jumat, 21 Maret 2008
cemburu
Assamualaikum,,
Cemburu merupakan pembawaan kaum wanita. Tidak jarang seorang wanita cemburu gara-gara perkara yang sepele. Karena itu seorang suami harus menjaga diri terhadap hal yang demikian dan hendaknya jangan sampai keliru dalam meluruskan masalahnya.
Ini jika sang istri tidak berkepanjangan dalam kecemburuannya. Jika ternyata terus berkepanjangan dalam kecemburuannya, maka tentu setiap keadaan mempunyai cara sendirisendiri untuk mengatasinya.
Dahulu istri-istri Nabi juga cemburu, apalagi wanita-wanita jaman sekarang yang lebih banyak dikuasai oleh setan. Terdapat banyak hadits tentang kisah cemburunya istri istri Nabi ; di antaranya:
Hadits `Aisyah yang mengatakan, yang artinya:
Tidakkah ingin aku ceritakan kepadamu tentang aku dan nabi? Ketika suatu malam giliranku bersama nabi, beliau membalikkan badan, dan meletakkan sandalnya di sebelah kakinya dalam keadaan masih terbaring.
Kemudian beliau menyingkirkan ujung kainnya ke pembaringannya. Sesaat beliau tetap dalam pembaringannya sampai beliau menyangka kalau aku sudah tidur. Setelah itu beliau perlaha-lahan mengenakan sandalnya, mengambil kain selendangnya perlahan-lahan, membuka pintu perlahan-lahan dan keluar perlahan-lahan.
Akupun kemudian mengenakan pakaianku mulai dari atas kepala, aku kenakan kerudungku dan aku tutupkan kainku ke tubuhku lalu aku berjalan mengikuti jejak Nabi hingga akhirnya beliau sampai di (kuburan) Bagi’. Beliau mengangkat kedua tangannya (berdoa) tiga kali. Beliau lama dalam berdoa.
Setelah itu beliau bergeser pergi, akupun bergeser pergi, beliau mempercepat iangkahnya, akupun mmpercepat langkahku. beliau berlari-lari kecil, akupun berlari -lari kecil, beliau tergesa-gesa, akupun tergesa-gesa, sehingga aku dapat mendahuluinya. Selanjutnya aku masuk rumah dan berbaring kembali. Kemudian Rasulullah masuk pula seraya bersabda:
“Mengapa engkau wahai Aisyah? Engkau tersengal-sengal?”
Aisyah menjawab: “Tidak.”
Beliau bekata: “Engkau harus menceritakan kepadaku atau Allah Yang Maha Lembut dan Maha Tahu yang akan menceritakannya kepadaku.”
Aku (Aisyah) berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh….” Lalu Aisyah menceritakan kisahnya. Beliau lalu bersabda: “Adakah engkau seorang yang tadi aku lihat di hadapanku?”
Aisyah menjawab: “Ya”
Kemudian rasullah menepuk dadaku dengan suatu tepukan hingga terasa sakit. Beliaupun bersabda: “Apakah engkau mengira bahwa Allah dan Rasul-Nya akan mendzhalimi kamu?”
Aku (Aisyah) berkata: “Betapapun orang menyembunyikan sesuatu, Allah pasti mengetahuinya” (1)
Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Jibril datang kepadaku ketika engkau (tadi) melihat(ku). Ia (Jibrii) tidak datang kepadamu sedangkan engkau sudah melepaskan pakaianmu. Jibril memaiiggilku, maka aku bersembunyi-sembunyi dari pandanganmu. Saya suka jika saya menyembunyikan diri darimu,
Kemudian saya kira kamu sudah tidur, saya tidak suka jika harus membangunkanmu dan saya khawatir jika kamu ketakutan. Jibril memerintahkan aku supaya datang ke (kuburan) Baqi untuk kemudian aku memohonkan ampun kepada Allah buat mereka (orang-orang yang dikubur di Baqi).”
Aku (Aisyah) berkata: “Wahai rasulullah apa yang harus aku ucapkan (ketika datang ke kuburan) ?”
Beliau bersabda: “Ucapkanlah doa:
Keselamatan hendaknya tercurah kepada penghuni kubur dari kalangan kaum mukminin dan kaum muslimin, semoga Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang mati terdahulu dan yang mati kemudian. Dan kami insya Allah akan menyusul kemudian.” (2)
Hadits yang lainnya lagi adalah juga hadits Aisyah,
Saya mencari Rasulullah, kemudian tangan saya, saya selusupkan ke rambutnya. maka Nabi bersabda: “Apakah setanmu sedang datang?” Saya menjawab: “Apakah engkau tidak mempunyai setan?”. Beliau menjawab:
“Punya, tetapi Allah menolongku dari godaan setan itu sehingga is masuk Islam.” (3)
Teks kalimat yang ada dalam riwayat Muslim lebih jelas lagi dalam menjelaskan maksud hadits di atas. Dalam riwayat Muslim tersebut terdapat perkataan Aisyah sebagai berikut:
Rasulullah, telah keluar dari rumah Aisyah, is (Aisyah) berkata: “Saya cemburu terhadapnya”.(2) Kemudian Rasulullah datang dan melihat apa yang aku lakukan. Maka beliau bersabda: “Mengapa engkau wahai Aisyah, apakah engkau cemburu?”
Aku menjawab: “Mengapa orang semacam saya tidak cemburu terhadap orang seperti anda?”. Nabi bersabda: “Ataukah setanmu sedang datang kepadamu?” al-Hadits. (4)
Demikian pu!a perkataan Aisyah dalam hadits berikut ini:
Pada suatu malam saya kehilangan Rasulullah Saya menyangka beliau pergi ke istri yang lain. Lalu saya selidiki beliau, ternyata beliau sedang ruku’ atau sujud sambil berdo’a: “Maha suci Engkau dan MahaTerpuji Engkau, tiada sesembahan yang benar melainkan Engkau.” Maka saya berkata: “Sungguh-sungguh anda dalam keadaan satu keadaan (ibadah), sedang saya dalam keadaan lain (digoda oleh rasa cemburu).” (Hadits shahih yang dikeluarkan oleh Muslim: I/351-352; Abdul Baqi, An-Nasi’i VII/72, ath-Thayalisi 1405 dan Iainnya).
Label:
islami
Senin, 03 Maret 2008
ada apa dengan Indonesian Idol?
Assalamu'alaikumwrwb,........
Hari yang indah, hari ini na ujian praktik bahasa inggris. Duh, tegang tapi AlhamduliLLah bisa! Lancar! tadi juga pas ditanyain bisa jawab dengan baik.... Pada pidato kali ini na mengangkat tema 'Indonesian Idol Is a Public Lying' Na sangat tertarik sekali dengan judul ini, karena kebanyakan dari kita tidak tahu bahwa sebenarnya kitelah ditipu secara tidak sadar. Mungkin mendengar bahwa hadiah indonesian idol adalah sebuah mobil yang harganya 100 juta kita udah ngiyem gitu... Iya, na juga(".) Tapi apa kita tahu bahwa inputnya pihak Indonesian Idol yang sebenarnya itu mencapai ..........
denk2!.....100 milliar rupiah saudara-saudara! So, coba kita bandingkan dengan hadiah yang ditawarkan kepada juara satunya. Nggak ada 1%! cuma 0.01% thok!
*wah...kalo gitu kita emang bener-bener ditipu yah!
eh, bener gak nih, jangan-jangan cuma asal nih yang nulis!
H0hoho....
tunggu atuh nenG!! na dapet nih data tu valid bin terpercaya....
Sumbernya majalah Annida tahun 2004 kalau ga salah, tapi pokoknya dari Annida,(ih maksa,Biarin!)
indonesian idol itu kan ratingnya sangat tinggi, jadi dah pasti banyak banget iklan yang ngantri buat Indonesian idol. Padahal iklan harus membayar 15-20 juta per 30 detik. Nah, Indonesian Idol memberi jatah iklan 2o% dari 2 jam penampilan. Jadi, dari iklan aja Indonesian Idol dapat 1 milliar lebih. Itu untuk satu kali penampilan, jika 3 bulan penampilan, mereka dapat mengumpulkan 12 milliar.
Belum juga dari sms, seperti kita tahu bahwa Indonesian Idol meng"invite" kita untuk mengirim sms sebagai dukungan kepada para finalist. Dari tiap sms mereka mendapat 2 ribu rupiah, dan menurut data yang ada, setiap harinya 60-80 ribu sms mengalir untuk Indonesian Idol, dan akan meningkat saat konser berlangsung. Jadi dari sms selama satu edisi Indonesian Idol, mereka mendapat lebih dari 18 milliar rupiah.
*WuiZz....banyak banget yah!
Eh, belum kelar nih jelasinnya,
pemasukan yang begitu banyak belum lagi ditambah dengan hasil penjualan album kaset Indonesian Idol yang mencapai 350 ribu kaset, harga tiap kaset sekitar 20 ribu, jadi dari hasil penjualan album kaset, mereka meraup keuntungan sekitar 70 milliar rupiah.
so, jika kita kalkulasikan, input Indonesian Idol mencapai 100 milliar rupiah, sangatlah tidak sebanding dengan hadiah yang diberikan pada juaranya pada tiap edisi yang hanya berkutat pada angka 100 juta. Hadiah yang diberikan hanya 0.01% dari keseluruhan inputnya. CkCkCk....
Nah, kalau masalah moral, sudah jelaskan bahwa disetiap konser para finalist memakai pakaian yang tidak sesuai dengan islam, pakaian yang kurang bahan lah...keliatan lekuk badan....
Du, jangan sampai deh kita atau orang-orang terdekat kita jadi ikut-ikutan...
Sekarang sudah jelas, kan ada apa dibalik Indonesian Idol. Apa yang akan kita tonton sangat mempengaruhi kepribadian kita. Kalau ada acara yang lebih baik dan syar'i, mengapa kita pilih yang sudah jelas jauh dari islam?
Hari yang indah, hari ini na ujian praktik bahasa inggris. Duh, tegang tapi AlhamduliLLah bisa! Lancar! tadi juga pas ditanyain bisa jawab dengan baik.... Pada pidato kali ini na mengangkat tema 'Indonesian Idol Is a Public Lying' Na sangat tertarik sekali dengan judul ini, karena kebanyakan dari kita tidak tahu bahwa sebenarnya kitelah ditipu secara tidak sadar. Mungkin mendengar bahwa hadiah indonesian idol adalah sebuah mobil yang harganya 100 juta kita udah ngiyem gitu... Iya, na juga(".) Tapi apa kita tahu bahwa inputnya pihak Indonesian Idol yang sebenarnya itu mencapai ..........
denk2!.....100 milliar rupiah saudara-saudara! So, coba kita bandingkan dengan hadiah yang ditawarkan kepada juara satunya. Nggak ada 1%! cuma 0.01% thok!
*wah...kalo gitu kita emang bener-bener ditipu yah!
eh, bener gak nih, jangan-jangan cuma asal nih yang nulis!
H0hoho....
tunggu atuh nenG!! na dapet nih data tu valid bin terpercaya....
Sumbernya majalah Annida tahun 2004 kalau ga salah, tapi pokoknya dari Annida,(ih maksa,Biarin!)
indonesian idol itu kan ratingnya sangat tinggi, jadi dah pasti banyak banget iklan yang ngantri buat Indonesian idol. Padahal iklan harus membayar 15-20 juta per 30 detik. Nah, Indonesian Idol memberi jatah iklan 2o% dari 2 jam penampilan. Jadi, dari iklan aja Indonesian Idol dapat 1 milliar lebih. Itu untuk satu kali penampilan, jika 3 bulan penampilan, mereka dapat mengumpulkan 12 milliar.
Belum juga dari sms, seperti kita tahu bahwa Indonesian Idol meng"invite" kita untuk mengirim sms sebagai dukungan kepada para finalist. Dari tiap sms mereka mendapat 2 ribu rupiah, dan menurut data yang ada, setiap harinya 60-80 ribu sms mengalir untuk Indonesian Idol, dan akan meningkat saat konser berlangsung. Jadi dari sms selama satu edisi Indonesian Idol, mereka mendapat lebih dari 18 milliar rupiah.
*WuiZz....banyak banget yah!
Eh, belum kelar nih jelasinnya,
pemasukan yang begitu banyak belum lagi ditambah dengan hasil penjualan album kaset Indonesian Idol yang mencapai 350 ribu kaset, harga tiap kaset sekitar 20 ribu, jadi dari hasil penjualan album kaset, mereka meraup keuntungan sekitar 70 milliar rupiah.
so, jika kita kalkulasikan, input Indonesian Idol mencapai 100 milliar rupiah, sangatlah tidak sebanding dengan hadiah yang diberikan pada juaranya pada tiap edisi yang hanya berkutat pada angka 100 juta. Hadiah yang diberikan hanya 0.01% dari keseluruhan inputnya. CkCkCk....
Nah, kalau masalah moral, sudah jelaskan bahwa disetiap konser para finalist memakai pakaian yang tidak sesuai dengan islam, pakaian yang kurang bahan lah...keliatan lekuk badan....
Du, jangan sampai deh kita atau orang-orang terdekat kita jadi ikut-ikutan...
Sekarang sudah jelas, kan ada apa dibalik Indonesian Idol. Apa yang akan kita tonton sangat mempengaruhi kepribadian kita. Kalau ada acara yang lebih baik dan syar'i, mengapa kita pilih yang sudah jelas jauh dari islam?
Label:
asal tahu ya...
Sabtu, 01 Maret 2008
jawaban atas bisikan iblis

10 Jawaban Mengatasi Bisikan Iblis
Ada sepuluh cara setidaknya, agar kita bisa menjawab godaan setan yang selalu ingin menjerumuskan kita ke jurang neraka. Cara praktis mengusir iblis dan bala tentaranya itu tertuang nasihat seorang ulama dalam dialog antara manusia dan iblis:
1. Jika ia datang kepadamu dan berkata:" Anakmu mati," katakan kepadanya : Sesungguhnya mahluk hidup diciptakan untuk mati, dan penggalan mdariku(putraku) akan masuk surga. Dan hal itu membuatku bahagia".
2. Jika ia datang kepadamu dan berkata:" Hartamu musnah," katakan kepadanya : "Segala puji bagi Allah Zat Yang Maha Memberi dan Mengambil, dan menggugurkan atasku kewajiban zakat."
3. Jika ia datang kepadamu dan berkata:" Orang-orang menzalimimu sedangkan kamu tidak menzalimi seorangpun." maka katakan kepadanya : "Siksaan akan menimpa orang-orang yang berbuat zalim dan tidak menimpa orang-orang yang berbuat kebajikan (Mukhsinin)".
4. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata: "Betapa banyak kebaikanmu," dengan tujuan menjerumuskan untuk bangga diri(Ujub). Maka katakan kepadanya: "Kejelekan-kejelekanku jauh lebih banyak dari pada kebaikanku".
5. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata:"Alangkah banyaknya shalatmu". Maka katakan : "Kelalaianku lebih banyak dibanding shalatku".
6. Dan jika ia datang dan berkata: "Betapa banyak kamu bersedekah kepada orang-orang". Maka katakan kepadanya: "Apa yang saya terima dari Allah jauh lebih banyak dari yang saya sedekahkan".
7. Dan jika ia berkata kepadamu : "Betapa banyak orang yang menzalimimu". Maka katakan kepadanya : "Orang-orang yang kuzalimi lebih banyak".
8. Dan jika ia berkata kepadamu : "Betapa banyak amalmu". Maka katakan kepadanya: "Betapa seringnya aku bermaksiat".
9. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata: "Minumlah minuman-minuman keras!". Maka katakan : "Saya tidak akan mengerjakan maksiat".
10. Dan jika ia datang kepadamu dan berkata: "Mengapa kamu tidak mencintai dunia?". Maka katakan : "Aku tidak mencintainya dan telah banyak orang lain yang tertipu olehnya".
Label:
islami
Rahim

Adakah anggota tubuh manusia yang memakai nama terambil dari akar kata salah satu Asmâ al-Husnâ (nama-nama yang terbaik Allah)? Mari kita berpikir sejenak! Apa jawabannya? Bukankah jawabannya adalah Rahim? Yah, satu-satunya anggota tubuh manusia yang memakai nama-Nya, hanya rahim, dan ini ada hanya pada perempuan. Allah sendiri, dalam sebuah hadis Qudsi, menegaskan hal itu, "Aku adalah Ar-Rahmân, Aku menciptakan rahim, Ku-ambilkan untuknya nama yang berakar dari nama-Ku. Siapa yang menyambungkannya (silaturahmin) akan Ku-sambungkan (rahmat-Ku) untuknya dan siapa yang memutuskannya Kuputuskan (rahmat-Ku baginya." (HR. Abu Daud & At-Tirmidzi)
Tentu saja, penamaan ini, bukan kebetulan. Melainkan sebuah password (kata kunci) yang Allah Swt. berikan kepada kita agar kita bisa mengungkap misteri di balik penamaan tersebut. Supaya mutiara hikmahnya terkuak, maka mari kita selami makna kata "rahim" tersebut secara bahasa!
Kata "rahim" berasal dari bahasa Arab. Kata ini diambil dari akar katanya, yaitu rahmat. Dan Quraish Shihab dalam bukunya; "Menyingkap Tabir Ilahi" (Lentera Hati, 2001), mengatakan bahwa menurut ahli bahasa Arab Ibnu Faris (wafat 395 H) semua kata yang terdiri dari huruf-huruf Râ, Hâ, dan Mîm, mengandung makna "kelemahlembutan, kasih sayang, dan kehalusan."
Dalam Al-Quran, kata yang berasal dari tiga huruf itu disebutkan sebanyak 177 kali, kata Ar-Rahmân terulang 57 kali, kata Ar-Rahîm sebanyak 97 kali, dan sisanya dalam bentuk kata kerja. Sedangkan penggunaan kata rahim dengan makna tempat penciptaan manusia; kandungan, terulang sebanyak 7 kali.
Dari tinjauan secara bahasa tersebut, kata rahim mengandung filosofis dan hikmah yang harus kita renungkan bersama. Dalam hadis Qudsi di atas, ketika Allah Swt. memberitahu kita bahwa Dia menciptakan rahim dan penamaannya diambil dari nama-Nya, maka ini menegaskan kepada kita bahwa Allah Swt. sebagai Khâliq (Pencipta) dan keberadaan kita adalah bukti dari rahmân dan rahîm Allah Swt.
Tanpa rahmat-Nya, maka kita tidak pernah ada. Betapa tidak, coba kita bayangkan, kita bermula dari air yang kita anggap hina; dari setetes mani (sperma) yang dipancarkan dalam rahim untuk membuahi sel telur (ovum). Dari pembuahan ini, jadilah nuthfah (zigota). Kemudian, nuthfah yang bercampur itu menjadi dua sel, lalu dua sel itu membelah menjadi empat. Empat sel itu, terus membelah dan berkembang, jadilah 'alaqah (segumpal darah; implantasi), lalu menjadi mudhghah (segumpal daging; embrio). Lalu, mudhghah itu menjadi segumpal tulang, akhirnya tulang-belulang itu dibungkus daging, maka jadilah janin yang sempurna anggota tubuhnya. Pernahkah kita memikirkan, bagaimana bisa terjadi dari satu sel yang sama bisa menjadi sesuatu yang berbeda, ada yang jadi otak, kepala, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan? Apakah pembelahan dan perkembangan sel-sel itu terjadi dengan sendirinya? Tentu saja, pertanyaan ini akan terjawab, bila kita memahami makna hadis qudsi di atas, yaitu Allahlah yang menciptakan semua itu.
Yang lebih menarik lagi adalah bagaimana Al-Quran dan Al-Hadis Nabi bisa berbicara tentang sesuatu yang terjadi dalam rahim, padahal ilmu kedokteran, terutama ilmu kandungan, lahir setelah 14 abad kemudian? Suatu hal yang mustahil, jika Muhammad Saw. bukan seorang nabi, bisa menjelaskan kejadian di alam rahim. Selain beliau ummi (buta huruf), juga waktu itu belum ditemukan peralatan untuk melihat proses kejadian manusia dalam rahim. Subhanallâh, inilah bukti bahwa Muhammad Saw. adalah seorang nabi dan rasul, serta ajaran yang beliau sampaikan benar-benar dari Allah rabbul 'âlamîn.
Lantas, seperti apakah penjelasan Allah dan rasul-Nya itu? Dalam Al-Quran, Allah Swt. memaparkan kejadian kita dimulai dari suatu masa yang belum dapat disebut. Fase ini, dalam ilmu psikologi, dikenal dengan istilah masa konsepsi. Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut. (QS. Al-Insân [76]:1)
Mengapa masa ini disebut "belum merupakan sesuatu yang dapat disebut"? Wallâhu a'lâm. Ada dua kemungkinan untuk menjawab hal ini. Pertama, pada masa ini, kita masih berupa pembelahan sel. Sebab, hingga akhir minggu keempat, kita belum dapat mengenal anggota tubuh tertentu. Penjelasan kedua, sebab pada fase ini rûh belum ditiupkan oleh Allah Swt. dalam tubuh kita. Sedangkan yang disebut manusia adalah perpaduan dari jasad dan ruhani.
Secara gamblang dan runtut, Allah Swt. memaparkan proses kejadian kita. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik (QS. Al-Mu'minûn [23]:12-14).
Adapun dalam hadis, nabi Muhammad Saw. bersabda, "Sesungguhnya setiap orang diantara kalian penciptaannya dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nuthfah. Kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, lantas malaikat dikirim untuk menghembuskan ruh padanya. Dan malaikat diperintah untuk menuliskan tentang rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya." (HR. Bukhari)
Itulah proses kejadian kita secara jasadiyah. Untuk lebih lengkap dan detailnya, sebaiknya Anda baca langsung dari buku-buku kedokteran atau buku yang secara khusus membahasnya. Sebab, terlalu panjang, dan kurang relevan kita bicarakan dalam buku ini. Sekarang yang patut kita renungkan, yaitu tentang sperma.
Satu tetes sperma mengandung sekitar dua juta sel sperma, dan yang dibutuhkan untuk membuahi sel telur hanya satu sel sperma. Jadi, tidak semua sperma membuahi sel telur. Hal ini ditegaskan oleh baginda nabi, "Tidak setiap mani (sperma) itu menjadi anak." (HR. Muslim) Lalu, apakah penciptaan jutaan sel sperma itu sesuatu yang sia-sia? Tentu saja tidak, sebab tidak ada yang sia-sia bagi perbuatan Allah Swt. (QS. Ali Imran [3]:191). Ini Allah Swt. lakukan, agar kita mengambil hikmah dari proses penciptaan kita. Lantas, apa hikmahnya?
Kalau sel sperma itu berjumlah dua juta dan hanya satu yang bisa membuahi sel telur, berarti terjadi kompetisi diantara mereka, maka sel yang bisa bertemu dengan sel telur itu adalah sel sperma yang terbaik. Sperma pilihan. Ini sel sperma yang mendapatkan kasih sayang dari Allah Swt. Di alam rahim ini terjadi penyeleksian bibit yang terbaik. Maka siapapun yang terlahir di muka bumi punya peluang untuk menjadi yang terbaik, sebab di alam rahim telah memiliki prestasi menjadi Sperma Terbaik.
Setelah bentuk kita sempurna, maka Allah meniupkan ruh, dalam jasad kita. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (QS. Al-Sajdah [32]:9). Selanjutnya, mengadakan perjanjian diantara kita dengan-Nya. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu". Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) (QS. Al'A'râf [7]:172).
Dalam perjanjian itu, seolah-olah, kita berjanji untuk tidak melupakan kasih sayang Allah Swt. setelah nanti kita lahir di muka bumi ini. Selama di alam rahim ini, kita telah mendapatkan begitu banyak kasih sayang-Nya, maka jangan sampai hal itu kita lupakan. Tanpa kasih sayang-Nya, maka mana mungkin nuthfah (sperma) itu bisa berubah menjadi manusia. Sebab, pada akhir fase mudhgah, malaikat yang mengurus proses penciptaan kita, akan bertanya kepada Allah Swt., apakah proses dilanjutkan atau tidak. Allahlah yang memutuskan, apakah tidak terjadi tercipta. Hal ini yang diungkapkan oleh rasulullah Saw. dalam hadis, "Jika nuthfah berada dalam rahim, malaikat berkata: "Wahai Allah, apakah ini diciptakan atau tidak?" Jika Allah berfirman tidak diciptakan, maka rahim itu akan mengeluarkannya (dalam bentuk darah)." (HR. Ibnu Abu Hatim)
Di alam ruh ini, kita juga merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Sehingga ibu kita selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari sangat begitu hati-hati memilih apa yang beliau makan, minum, dan yang beliau lakukan. Jadi, kita mendapatkan curahan kasih sayang dari Allah Swt. dan ibu secara sekaligus. Maka wajar saja jika tempat kita bersemanyam pertama kali ini disebut rahim, sebab di tempat ini kita mendapatkan kasih sayang penuh.
wallahu'alam bishowab
Label:
islami
ujian2!!!!
Assalamu'alaikumwrwb,
sejatinya hidup ini memang penuh ujian. Hari ini mulai uian praktik. Hufff....sepertinya jiwa ini butuh penyegaran....(Uhuk!apaan???)
hehehe...
HARI INI UJIAN PRAKTIK BIOLOGI, sementara banyak tugas yang menunggu untuk diselesaikan. Harus memikirkan ujia praktik,daftar universitas,ujian nasional,Arrrrggg....
tapi hidup memang seperti itu kan? Siapa sih manusia yang tak perah diuji oleh ALLAH? Bukankah dengan ujian itu manusia menjadi makhluk yang sempurna?
yapZ,atas nama kecerdasan bangsa,
Mengapa akhirnya manusia lebih sempurna dibanding malaikat?
jawabnya karena malaikat dicipta memang untuk senantiasa taat pada ALLAH,ehingga kan mereka tidak punya nafnu,
truz manusia kan punya nafsu dari sononya,jadi untuk taat kepada ALLAH butuh ujian dan harus menghadapinya dengan tak gentar...
Jika dunia memberimu seratus alasan untuk menangis,tunjukkan kalau kau punya sejuta alasan untuk terus tersenyum :)
d0 d'best for islam!!!!
sejatinya hidup ini memang penuh ujian. Hari ini mulai uian praktik. Hufff....sepertinya jiwa ini butuh penyegaran....(Uhuk!apaan???)
hehehe...
HARI INI UJIAN PRAKTIK BIOLOGI, sementara banyak tugas yang menunggu untuk diselesaikan. Harus memikirkan ujia praktik,daftar universitas,ujian nasional,Arrrrggg....
tapi hidup memang seperti itu kan? Siapa sih manusia yang tak perah diuji oleh ALLAH? Bukankah dengan ujian itu manusia menjadi makhluk yang sempurna?
yapZ,atas nama kecerdasan bangsa,
Mengapa akhirnya manusia lebih sempurna dibanding malaikat?
jawabnya karena malaikat dicipta memang untuk senantiasa taat pada ALLAH,ehingga kan mereka tidak punya nafnu,
truz manusia kan punya nafsu dari sononya,jadi untuk taat kepada ALLAH butuh ujian dan harus menghadapinya dengan tak gentar...
Jika dunia memberimu seratus alasan untuk menangis,tunjukkan kalau kau punya sejuta alasan untuk terus tersenyum :)
d0 d'best for islam!!!!
Label:
semangat baru
Minggu, 24 Februari 2008
belajar!!!!!!!

Daiyah Khairunnisa alias Dey, dikenal sebagai seorang aktivis dakwah yang berprinsip. Ketika baru saja naik ke kelas 3 SMA Citra Negeri di Palembang, sahabatnya, Bella, berusaha menjodohkan Dey dengan Sir Fatah, guru Bahasa Inggris mereka yang baru dan masih muda. Dey tidak memedulikannya. Berbeda dengan Bella yang sering bergonta-ganti pacar, salah satu prinsip Dey adalah tidak berpacaran karena tidak ada konsep pacaran dalam Islam. Sir Fatah sendiri ternyata adalah lulusan pesantren di Jawa Timur yang sempat menjadi tenaga pengajar di beberapa pesantren. Ia pun pernah mengikuti studi pertukaran mahasiswa di salah satu Universitas Islam di Islamabad selama satu tahun.
Karena keadaan darurat dan tidak ada pilihan lain, suatu malam sekitar pukul setengah sebelas, Dey terpaksa berboncengan motor dengan Sir Fatah untuk pulang ke rumah. Ternyata peristiwa itu merupakan siasat Bella untuk menjodohkan Dey dengan Sir Fatah. Baik Dey maupun Bella tidak menyangka bahwa kejadian itu akan berakibat buruk. Di hari-hari berikutnya, Dey menjadi topik utama gosip terbaru dan terkejam di SMA mereka: ia sebagai anak Rohis diberitakan memiliki kedekatan istimewa dengan Sir Fatah, gurunya sendiri.
Lama kelamaan, Dey dan Sir Fatah sama-sama menyadari dan mengetahui bahwa mereka menyimpan perasaan yang sama, yaitu cinta. Cinta yang belum tepat waktu, yang belum halal di mata Allah. Keteguhan prinsip dan iman memaksa keduanya untuk berjuang mengendalikan perasaan itu. Keduanya lalu memutuskan untuk mengingkari perasaan masing-masing dan saling menjaga jarak. Itulah jalan satu-satunya ketika menikah menjadi pilihan yang sama sekali tidak mungkin terjadi. Hingga pada suatu hari, Dey merasa terguncang saat terdengar kabar bahwa Sir Fatah akan menikah. Dey berusaha untuk tidak memikirkannya dan memfokuskan diri pada persiapan ujian akhir.
Sebagai satu langkah dalam proses melupakan kisahnya dengan Sir Fatah, Dey memutuskan untuk kuliah di Bandung, tepatnya di Unpad. Dalam perjalanan dari Palembang menuju Bandung, Dey berkenalan dengan George alias Jo, seorang lelaki muda berambut agak gondrong yang merupakan teman sebangku Dey di bus. Jo berprofesi sebagai wartawan di Jakarta dan berumur beberapa tahun lebih tua dari Dey. Sepanjang perjalanan, dengan caranya yang unik dan sederhana, Jo berusaha menghibur Dey yang masih merasa kacau. Sebelum berpisah, Jo memberikan kartu nama adik perempuannya di Cirebon supaya Dey bisa menghubungi adiknya.
Sambil menunggu hasil tes SPMB, setelah bertualang ke tempat-tempat tertentu di Bandung, Dey pun berencana mengunjungi Alessandra alias Ale, adik Jo, di Cirebon. Sesampainya di Cirebon, Dey bertemu kembali dengan Jo. Di sana, Jo mengungkapkan isi hatinya bahwa ia bersimpati pada Dey. Kaget dengan pernyataan Jo, Dey segera pulang ke Palembang tanpa berpamitan terlebih dulu pada Jo. Jo mengejarnya, bahkan mengatakan bahwa ia akan menemui Hidayat, kakak Dey, untuk menunjukkan keseriusannya.
Ternyata Jo tidak main-main. Jo bertamu ke rumah Dey, menemui Hidayat, dan memberitahu kakak Dey itu bahwa ia memiliki misi untuk menjadi seorang muslim yang baik, cerdas, dan taat. Semua proses perbaikan diri itu dilakukan Jo terutama agar ia bisa melamar Dey di kemudian hari. Dey merasa bimbang, apalagi ketika mendengar kabar dari sahabat Rohis-nya di SMA, Deswita, tentang Sir Fatah yang tidak jadi menikah. Alasannya pun sangat mengejutkan, yaitu karena Sir Fatah memilih untuk berjihad sebagai panglima Allah ke negeri konflik Palestina. Ketika menghadiri pernikahan Hidayat, Dey bertemu lagi dengan Sir Fatah. Perjuangannya di Palestina ternyata telah menyebabkan Sir Fatah harus merelakan kaki kanannya.
Pada akhirnya, Dey diharuskan untuk memilih. Ia terjebak dalam lingkaran cinta tiga orang laki-laki: Jo, lelaki dewasa yang mapan dan serius memperbaiki diri untuk lebih dekat dengan-Nya; Reno, teman Dey di Rohis SMA dulu yang walaupun masih kuliah, tetapi telah memiliki pekerjaan dan siap menikah; serta Sir Fatah, masa lalunya yang kembali hadir kini. Siapakah yang akan Dey pilih?
*
Tentang cinta, memang ia adalah topik seumur hidup. Yang menjadi bagian terpenting dalam novel ini adalah pelajaran yang bisa diambil dari kisah hidup seorang Dey. Di kalangan aktivis dakwah, tidak jarang cinta pun bersemi sebelum waktunya. Kisah Dey menunjukkan bahwa para aktivis dakwah bukanlah tembok kokoh yang tidak berperasaan. Mereka adalah manusia dengan hati yang lembut dan bisa merapuh jika dihadapkan pada keadaan tertentu. Mereka pun merasakan cinta, menikmati cinta, tetapi mereka selalu memiliki cara untuk mengendalikannya. Mereka juga manusia, tetapi sebagai manusia yang memang tidak pernah lepas dari khilaf, mereka senantiasa memiliki niat dan tekad untuk selalu berjuang agar bisa tetap berada di jalan-Nya.
Novel ini adalah kumpulan dari kecintaan Azzura pada kota kelahiran dan kisah perjalanannya ke empat kota. Gadis yang turut membidani lahirnya FLP Wilayah Sumatera Selatan ini memang memiliki kegemaran jalan-jalan dan bertualang sendirian. Dengan keikutsertaannya dalam organisasi penulis nusantara dan mancanegara tersebut, minat dan bakat menulisnya mulai terasah. Pada 2003, ia berhasil menjadi juara ketiga Sayembara Penulisan Novel Remaja tingkat nasional Gema Insani Press 2003, dengan novel remaja berjudul Alabaster yang mengambil setting di Canberra dan Adelaide, Australia. Di akhir 2004, cerpen "Lampion" menyabet penghargaan terbaik kedua dalam Festival Kreativitas Pemuda yang diadakan atas kerjasama Creative Writing Institute, Direktorat Kepemudaan dan Diknas, serta dibukukan dalam antologi Dari Zefir sampai Puncak Fujiyama (CWI, 2004).
Seperti yang diutarakan Salim A.Fillah dalam sampul buku Birunya Langit Cinta ini, kisah Dey dan tiga orang lelaki dalam hidupnya ini memang senikmat susu coklat. Aromanya harum mewangikan cinta, gizinya memperkaya jiwa. Hangat, memikat! Bacalah, hiruplah keharuman aromanya, teguklah sedikit demi sedikit susu coklat yang penuh gizi ini, dan niscaya Anda akan bisa memaknai birunya langit cinta dari perspektif yang berbeda.
ga papa yah, ngutip dari blog sebelah...
tapi emang bagus kok...
ga cukup kalo cuma baca satu kali thok.....
Label:
buku
Senin, 18 Februari 2008
kitakah sahabat semusim...?
Berapa banyak orang yang kau kenal di sepanjang hidupmu? jawabnya pasti banyak sekali. lalu seberapa berartinya mereka dalam proses hidupmu?
Huffh,sebenarnya na hanya ingin membicarakan tentang yang namanya 'sahabat'. Mungkin banyak yang mengatakan ada sahabat dalam tiap masa, tapi tidak demikian dengan diri ini. Buat na, sahabat itu harus selalu ada di tiap masa untuk menguatkan langkah kaki yang mulai letih, tak peduli di masa apa kita saat itu.
na tu sempet mikir gini lho, sekarang tu banyak sekali fenomena friendster dan testi-testi segala macam, ga ada yang salah dengan semua itu. Tapi, itukah cerminan profile-profile yang kita ijinkan masuk ke dalam kehidupan kita dan menjadi 'sahabat maya' kita? kadang pun testi yang ada hanya berisi pujian yang kadang justru melenakan hati si penerima, sedangkan itukah cerminan sahabat sejati?(baca:selalu membenarkan tiap lanhkah yang kita ambil)
hmmm, seakarang kalau ditanya sebenarnya apakah definisi sahabat menurut seorang ana Jawabnya, sahabat itu seseorang yang mau berkata tidak saat semua orang berkata iya.
biarkan angin menerbangkanmu,
membawamu jauh ke negeri jauh,
walau angin tak lagi hangat,
senyumnya tak mengenal masa...
Huffh,sebenarnya na hanya ingin membicarakan tentang yang namanya 'sahabat'. Mungkin banyak yang mengatakan ada sahabat dalam tiap masa, tapi tidak demikian dengan diri ini. Buat na, sahabat itu harus selalu ada di tiap masa untuk menguatkan langkah kaki yang mulai letih, tak peduli di masa apa kita saat itu.
na tu sempet mikir gini lho, sekarang tu banyak sekali fenomena friendster dan testi-testi segala macam, ga ada yang salah dengan semua itu. Tapi, itukah cerminan profile-profile yang kita ijinkan masuk ke dalam kehidupan kita dan menjadi 'sahabat maya' kita? kadang pun testi yang ada hanya berisi pujian yang kadang justru melenakan hati si penerima, sedangkan itukah cerminan sahabat sejati?(baca:selalu membenarkan tiap lanhkah yang kita ambil)
hmmm, seakarang kalau ditanya sebenarnya apakah definisi sahabat menurut seorang ana
biarkan angin menerbangkanmu,
membawamu jauh ke negeri jauh,
walau angin tak lagi hangat,
senyumnya tak mengenal masa...
Label:
goresan pena
Sabtu, 02 Februari 2008
apa kabar imanmu hari ini?
Assalamu'alaikumwrwb,
Apa kabar imanmu hari ini?
Dua hari yang lalu na mengirim sms berisi kata-kata itu pada teman-teman na. Na pertama kali dapat sms itu dari salah satu mur0bi yang mengisi ment0ring di axel beberapa waktu lalu.Tapi tak sedikit yang mengecewakan dengan membalas sms itu. sebenarnya sms itu tak perlu dibalas,hanya perlu direnungkan dan diresapi. Direnungkan untuk menyegarkan kembali ruhiyah kita yang mulai kering,Diresapi untuk melihat,sebenarnya,bagaimana iman kita pada hari ini. Seberapa lama kita larut dalam urusan dunia. Seberapa lama kita memikirkan kesenangan dunia.Seberapa tinggi amplitudo detak jantung kita saat ayat quran dibacakan di hadapan kita?
Apa kabar imanmu hari ini?
Na saat mengirim sms itu pun juga sebenarnya ikut tertohok.
iman masih setipis kulut bawang yang hampit lepas ini harus selalu diikat erat oleh berbagai tali. Perlu orang lain untuk mengingatkan saat langkah sudah mulai letih tertati.
Apa kabar imanmu hari ini?
Ya ALLAH,bagaimana kujawab tanyamu nanti,padahal Engkaulah Yang Maha Menyaksikan....
Apa kabar imanmu hari ini?
Dua hari yang lalu na mengirim sms berisi kata-kata itu pada teman-teman na. Na pertama kali dapat sms itu dari salah satu mur0bi yang mengisi ment0ring di axel beberapa waktu lalu.Tapi tak sedikit yang mengecewakan dengan membalas sms itu. sebenarnya sms itu tak perlu dibalas,hanya perlu direnungkan dan diresapi. Direnungkan untuk menyegarkan kembali ruhiyah kita yang mulai kering,Diresapi untuk melihat,sebenarnya,bagaimana iman kita pada hari ini. Seberapa lama kita larut dalam urusan dunia. Seberapa lama kita memikirkan kesenangan dunia.Seberapa tinggi amplitudo detak jantung kita saat ayat quran dibacakan di hadapan kita?
Apa kabar imanmu hari ini?
Na saat mengirim sms itu pun juga sebenarnya ikut tertohok.
iman masih setipis kulut bawang yang hampit lepas ini harus selalu diikat erat oleh berbagai tali. Perlu orang lain untuk mengingatkan saat langkah sudah mulai letih tertati.
Apa kabar imanmu hari ini?
Ya ALLAH,bagaimana kujawab tanyamu nanti,padahal Engkaulah Yang Maha Menyaksikan....
Senin, 21 Januari 2008
tetes embun
Assalamu'alaikumwrwb,,,
na baru aja nulis cerpen,
baca yah!
Wajik Klethik Mbah
Ulin menatap langit-lngit kosnya. Pandangannya menerawang berharap menembus cakrawala, menemukan pisau membedah pikirannya. Beberapa tumpukan buku kimia teronggok di sudut ruangan, angin sepi meniupkan jarak antara Ulin dengan teman kosnya yang sejak tadi duduk sambil membolak-balik majalah. Suasana sepi itu terpecah oleh detik jam dinding yang mengejek kebisuan malam ini.
“Lin, apa keputusanmu?”
Ulin tak menjawab. Ia tetap tidak mengalihkan pandangan dari langit-langit kosnya. Mungkin ia sendiri tak mendengar pertanyaan Digma, temannya.
“Lin, kamu jadi pulang, kan?” Tanya Digma sekali lagi sambil mendekati Ulin. “Entahlah Dig, sebenarnya aku ingin sekali pulang, tapi tugasku di sini masih menumpuk. Banyak tugas presentasi yang belum kubuat, beberapa literatur buku polimer logam juga belum kudapatkan. Aku pusing sekali Dig….” Kata Ulin sambil mengembuskan napas dengan keras.
“Kalau menurutku kamu sebaiknya pulang Lin.”
“Aku ingin sekali pulang tapi kau tahu sendiri keadaanku,” Ulin berkata lirih sambil memejamkan mata, pikirannya melayang jauh ketika ia masih di Solo. Di Solo, Ulin tinggal bersama ayah, Ibu dan mbahnya. Saat itu Ulin adalah siswi di sebuah Madrasah Aliyah Negeri di Solo. Di kelas Ulin termasuk murid yang pandai, ia selalu mendapatkan peringkat 10 besar di kelas. Memasuki kelas 3, Ulin mulai berpikir untuk memilih PTN yang ia inginkan.
Malam itu setelah sholat isya’ berjamaah bersama keluarganya, Ulin menyampaikan isi hatinya.
“Bapak, Ibu, Mbah….” Kata Ulin lirih sambil menahan gemuruh di dadanya, hatinya kebat-kebit, Ia mengambil napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
“Kenapa, Nduk?” Sahut Bapaknya.
“Ulin kan sudah kelas tiga, Ulin ingin kuliah di kota lain,”ucap Ulin hati-hati.
“Oalah nduk….kuliah kok jauh-jauh apa di Solo ndak ada?” mbahnya langsung merespon Ulin.
Bapak masih terdiam, keningnya berkerut, Ia sedang berpikir. Di samping Beliau, Ibu juga terdiam menunggu kata-kata suaminya. Ulin sudah menduga bahwa tidaklah mudah bagi keluarganya untuk meluluskan keinginannya.
“Lin…” kata Bapak denan suara berat. “Kalau kamu kuliah di luar kota, siapa yang akan ngurus kamu, Nduk, kamu akan jauh dari keluarga. Bapak ndak tega, Nduk,” ujar Bapak.
Suasana kembali hening, hanya suara jangkrik yang memecah heningnya malam. Sesaat kemudian Ulin mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menanggapi ujaran Bapaknya.
“Ulin sudah memikirkan hal itu ,Pak. Bapak tidak usah khawatir, Ulin kan sudah besar, sudah bisa mengurus diri sendiri,” ucap ulin mencoba menyakinkan keluarganya.
“Ndak! Pokoknya kamu ndak boleh kuliah jauh-jauh, kuliah kan bisa di Solo, dekat dengan rumah. Mbah ndak setuju,” kata Mbah hampir menangis.
“Ibu, sudah tenang dulu, kita dengarkan alasan Ulin,” kata Ibu sambil memberi kode pada Ulin untuk meneruskan kata-katanya.
Tenggorokan Ulin terasa tercekat, Ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
“Pak, Bu, Mbah, Ulin ingin cari pengalaman di kota lain, Ulin tahu kalian mengkhawatirkan Ulin, tapi Ulin ingin mengejar cita-cita di kota lain. Ulin punya cita-cita yang ingin Ulin raih dan cita-cita itu bukan di Solo,” kata Ulin perlahan.
“Bukan di Solo? Lalu di mana, Nduk?” Ibu angkat bicara.
“Jakarta….,” ujar Ulin lirih
“Oalah Nduk, Jakarta itu jauh….apa kamu ndak kejauhan kuliahnya?” Tanya Mbah.
“Mbah, Jakarta itu ndak jauh kok, nanti kalau Ulin kangen rumah Ulin bisa pulang sendiri..” ujar Ulin
“Kenapa mesti Jakarta, Nduk?” Tanya Bapak sambil menatap buah hatinya.
“Di Jakarta mutu pendidikannya jauh lebih baik daripada disini, Pak. Lagi pula Ulin ingin menambah pengalaman. Ulin ingin punya teman dari banyak daerah, kalau Ulin kuliah di sini, Ulin tidak bisa mendapatkan itu semua…”
“Mbah pokoknya ndak setuju!” kata Mbah sambil pergi meninggalkan Bapak, Ibu dan Ulin.
“Ya sudahlah, biarkan Mbahmu menenangkan diri, kalau kamu memang maunya begitu Bapak sih setuju saja. Kami anggap kamu tahu yang terbaik bagi kamu,”ujar Bapak.
Ulin lega sekali mendengar hal itu. Niatnya untuk kuliah di Jakarta direstui oleh orang tuanya, walaupun Mbahnya masih belum setuju.
“O ya, Pak, Ulin ingin masuk Teknik,”ujar Ulin lirih.
“Apa-apaan kamu! Teknik? Wis tho ndak usah neko-neko, kamu itu perempuan. Tidak ada silsilah keluarga yang masuk Teknik. Keluarga kita keluarga santri. Bapak ndak sanggup melihatmu masuk Teknik dan berbaur di lapangan bersama puluhan laki-laki yang tak satu pun di antara mereka muhrim kamu. Bapak lebih suka kamu masuk keguruan, kamu jadi guru, mengajarkan ilmu pada orang ain dan amal jariahmu terus mengalir Nduk…”
“Pak, Arsitek, Insinyur,dan Ilmuan juga berguna untuk orang lain. Islam juga butuh Arsitek, Insinyur,dan Ilmuan. Pak, Bu, Ulin mohon…Ulin ndak mau jadi anak durhaka. Ulin mohon Bapak dan Ibu restui langkah yang akan Ulin ambil,” ujar Ulin hati-hati.
Rupanya malam itu menjadi malam yang berat bagi Ulin. Ia harus berusaha meyakinkan orang tuanya agar meluluskan keinginannya. Usaha Ulin berbuah hasil, Bapak dan Ibu setuju.
Berbulan-bulan Ulin belajar giat agar dapat lolos SPMB dan diterima di PTN yang ia inginkan. Saat SPMB, Ulin lolos dan diterima di PTN yang ia inginkan. Seluruh keluarga menyambut berita itu dengan suka cita, kecuali Mbah. Hal itu terlihat jelas saat keberangkatan Ulin ke Jakarta, Mbah tidak mau mengantar. Hati Ulin bagai teriris sembilu, sungguh ia tak ingin menyakiti Mbahnya. Ia tahu Mbahnya tak ingin kehilangan dirinya tetapi Ulin pun tak ingin cita-citanya terempas begitu saja.
Satu bulan Ulin di Jakarta, ia pulang untuk melepas rindu pada keluarganya. Begitu ia melangkah memasuki rumah, keluarganya menyambut gembira.
“Oalah Nduk, kamu kok lama sekali baru pulang. Mbah kangen,Nduk…,” kata Mbah sambil menciumi Ulin.
Ulin senang Mbahnya sudah bisa menerima keadaan. Namun sayang, saat-saat indah itu pun harus berakhir ketika Ulin akan kembali ke Jakarta. Agaknya rasa sayang Mbah pada Ulin mampu menggeser duka pada ceria. Ulin kembali ke Jakarta diantar oleh seluruh anggota keluarganya, termasuk Mbah.
Memasuki semester ke-3, tugas-tugas yang bejibun memaksa Ulin untuk berlama-lama di Jakarta dan jarang pulang ke Solo, Ulin sebenarnya juga merindukan rumahnya di Solo tapi apa mau dikata, ia tidak ingin tugasnya menumpuk, namun kali ini kerinduan yang membuncah di dadanya tak tertahankan lagi.
“Aku mau pulang, Dig, aku merindukan Mbah. Kamu benar, Beliau sedang sakit, Beliau membutuhkan aku di sisinya. Tugasku penting tapi Mbahku jauh lebih penting,”kata Ulin sambil bangun dari tempat tidurnya.
“Iya Lin, kamu mengambil keputusan yang tepat, ayo berkemas, akan kubantu,”ujar Digma semangat.
Ulin segera meraih tas ransel di bawah meja, Ia mengambil beberapa potong baju dari dalam almari lalu memasukkannya ke dalam tas dibantu Digma.
****
“Apa Ulin sudah memberi kabar, Bu?” Bapak menunggu kedatangan Ulin dengan cemas.
“Iya, Pak, tadi pagi dia telepon, katanya hari ini dia akan sampai sekitar jam lima sore, kita tunggu saja, Pak,” ujar Ibu menenangkan Bapak.
Sudah sekitar pukul setengah enam sore, Ulin belum juga tiba, Bapak dan Ibu melai cemas, ibu berkali-kali menelpon ke handphone Ulin, tetapi sedang tidak aktif.
“Duh, Pak. Bapak coba susul Ulin ke terminal sana, ibu jadi cemas,” kata Ibu cemas.
Dari dalam kamar nenek terdengar suara batuk, Ibu dan Bapak segera masuk untuk melihat nenek.
“Uhuk-uhuk! Mana Ulin, kok belum datang uhuk-uhuk!”
“Ulin masih di jalan Bu, sebentar mau saya susul ke terminal, siapa tahu dia lagi nunggu angkot buat ke sini,” kata Bapak sambil mengambil jaket dan bersiap ke luar. Beberapa langkah keluar dari kamar nenek, Ibu berlari kecil menyusul.
“Pak, nanti jangan lupa beli obat buat ibu ya, obatnya tinggal sedikit,” kata Ibu mengingatkan.
Bapak mengiyakan kata-kata ibu lalu mengeluarkan sepeda motor dari garasi. Beberapa saat kemudian Bapak melaju dengan motornya. Bapak mengendarai motor dengan pikiran yang kacau. Beliau mencemaskan Ulin, anak perempuan satu-satunya di keluarganya, yang sampai sekarang belum tiba di rumah. Langit sudah mulai gelap. Bapak semakin mempercepat laju sepeda motornya. Saat sampai di depan pertigaan pasar, Bapak melihat sosok berjilbab biru yang amat dikenalnya. Ulin!
Bapak menghentikan sepeda motornya tepat di depan Ulin.
“Lin, ngapain kamu disini? Bapak, Ibu sama Mbah itu cemas nungguin kamu! Bentak Bapak sambil menatap tajam Ulin.
“Maaf, Pak tadi Ulin beli wajik klethik kesukaan Mbah, Mbah kan sakit pasti senang kalau Ulin bawain wajik klethik…”
“Lha terus kenapa masih di sini?”
“Ulin ketinggalan angkot , Pak,” ucapUlin dengan wajah penuh sesal,” Ulin minta maaf, Pak sudah membuat keluarga cemas,” sambung Ulin.
“Yo wis, yo wis. Ayo kita pulang, Mbah sudah nungguin kamu!”
Ulin segera duduk di belakang Bapaknya. Ada sedikit sesal yang merayap di dadanya, Ah kalau saja aku tak ketinggalan angkot, batinnya.
Sepeda motor itu melaju kencang menembus pekatnya malam. Udara dingin mulai menusuk pori-pori kulit Ulin. Sesampainya di pertigaan dekat rumahnya,tiba-tiba SRETTT!!!Sebuah sepeda motor hamper menabrak Ulin dan Bapaknya.
“Woi…dasar wong edan,malam-malam ngebut di jalan raya,dikira jalan milik nenek moyang kamu tho,”Bapak marah marah kepada pengendara sepeda motor itu. Sayang, orang itu justru melaju semakin kencang.Tiba-tiba Ulin merasakan hawa dingin yang berbeda. Ada perasaan tak enak yang hinggap di hatinya,tapi ia segera menepisnya.
Beberapa saat kemudian, Ulin dan Bapak sampai di halaman rumah. Ulin membawa tas plastik berisi wajik kletik kesukaan Mbahnya.
Sesampainya di teras, Ulin dan Bapak kaget melihat kerumunan di rumahnya. Perasaan tidak enak seketika menjalar di hati mereka. Seorang tetangga, Bu Suti, keluar dengan berlinangan air mata. Ia berlari menuju Ulin.
“Lin, Mbahmu, Nduk…”
“Mbahmu, … Mbahmu Nduk…” Bu Suti tidak bisa meneruskan kalimatnya. Ulin terdiam. Ia tak perlu mendengar apa-apa lagi, ia sudah bisa membaca apa yang terjadi.
Tiba-tiba ia merasa gelap.
na baru aja nulis cerpen,
baca yah!
Wajik Klethik Mbah
Ulin menatap langit-lngit kosnya. Pandangannya menerawang berharap menembus cakrawala, menemukan pisau membedah pikirannya. Beberapa tumpukan buku kimia teronggok di sudut ruangan, angin sepi meniupkan jarak antara Ulin dengan teman kosnya yang sejak tadi duduk sambil membolak-balik majalah. Suasana sepi itu terpecah oleh detik jam dinding yang mengejek kebisuan malam ini.
“Lin, apa keputusanmu?”
Ulin tak menjawab. Ia tetap tidak mengalihkan pandangan dari langit-langit kosnya. Mungkin ia sendiri tak mendengar pertanyaan Digma, temannya.
“Lin, kamu jadi pulang, kan?” Tanya Digma sekali lagi sambil mendekati Ulin. “Entahlah Dig, sebenarnya aku ingin sekali pulang, tapi tugasku di sini masih menumpuk. Banyak tugas presentasi yang belum kubuat, beberapa literatur buku polimer logam juga belum kudapatkan. Aku pusing sekali Dig….” Kata Ulin sambil mengembuskan napas dengan keras.
“Kalau menurutku kamu sebaiknya pulang Lin.”
“Aku ingin sekali pulang tapi kau tahu sendiri keadaanku,” Ulin berkata lirih sambil memejamkan mata, pikirannya melayang jauh ketika ia masih di Solo. Di Solo, Ulin tinggal bersama ayah, Ibu dan mbahnya. Saat itu Ulin adalah siswi di sebuah Madrasah Aliyah Negeri di Solo. Di kelas Ulin termasuk murid yang pandai, ia selalu mendapatkan peringkat 10 besar di kelas. Memasuki kelas 3, Ulin mulai berpikir untuk memilih PTN yang ia inginkan.
Malam itu setelah sholat isya’ berjamaah bersama keluarganya, Ulin menyampaikan isi hatinya.
“Bapak, Ibu, Mbah….” Kata Ulin lirih sambil menahan gemuruh di dadanya, hatinya kebat-kebit, Ia mengambil napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
“Kenapa, Nduk?” Sahut Bapaknya.
“Ulin kan sudah kelas tiga, Ulin ingin kuliah di kota lain,”ucap Ulin hati-hati.
“Oalah nduk….kuliah kok jauh-jauh apa di Solo ndak ada?” mbahnya langsung merespon Ulin.
Bapak masih terdiam, keningnya berkerut, Ia sedang berpikir. Di samping Beliau, Ibu juga terdiam menunggu kata-kata suaminya. Ulin sudah menduga bahwa tidaklah mudah bagi keluarganya untuk meluluskan keinginannya.
“Lin…” kata Bapak denan suara berat. “Kalau kamu kuliah di luar kota, siapa yang akan ngurus kamu, Nduk, kamu akan jauh dari keluarga. Bapak ndak tega, Nduk,” ujar Bapak.
Suasana kembali hening, hanya suara jangkrik yang memecah heningnya malam. Sesaat kemudian Ulin mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menanggapi ujaran Bapaknya.
“Ulin sudah memikirkan hal itu ,Pak. Bapak tidak usah khawatir, Ulin kan sudah besar, sudah bisa mengurus diri sendiri,” ucap ulin mencoba menyakinkan keluarganya.
“Ndak! Pokoknya kamu ndak boleh kuliah jauh-jauh, kuliah kan bisa di Solo, dekat dengan rumah. Mbah ndak setuju,” kata Mbah hampir menangis.
“Ibu, sudah tenang dulu, kita dengarkan alasan Ulin,” kata Ibu sambil memberi kode pada Ulin untuk meneruskan kata-katanya.
Tenggorokan Ulin terasa tercekat, Ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
“Pak, Bu, Mbah, Ulin ingin cari pengalaman di kota lain, Ulin tahu kalian mengkhawatirkan Ulin, tapi Ulin ingin mengejar cita-cita di kota lain. Ulin punya cita-cita yang ingin Ulin raih dan cita-cita itu bukan di Solo,” kata Ulin perlahan.
“Bukan di Solo? Lalu di mana, Nduk?” Ibu angkat bicara.
“Jakarta….,” ujar Ulin lirih
“Oalah Nduk, Jakarta itu jauh….apa kamu ndak kejauhan kuliahnya?” Tanya Mbah.
“Mbah, Jakarta itu ndak jauh kok, nanti kalau Ulin kangen rumah Ulin bisa pulang sendiri..” ujar Ulin
“Kenapa mesti Jakarta, Nduk?” Tanya Bapak sambil menatap buah hatinya.
“Di Jakarta mutu pendidikannya jauh lebih baik daripada disini, Pak. Lagi pula Ulin ingin menambah pengalaman. Ulin ingin punya teman dari banyak daerah, kalau Ulin kuliah di sini, Ulin tidak bisa mendapatkan itu semua…”
“Mbah pokoknya ndak setuju!” kata Mbah sambil pergi meninggalkan Bapak, Ibu dan Ulin.
“Ya sudahlah, biarkan Mbahmu menenangkan diri, kalau kamu memang maunya begitu Bapak sih setuju saja. Kami anggap kamu tahu yang terbaik bagi kamu,”ujar Bapak.
Ulin lega sekali mendengar hal itu. Niatnya untuk kuliah di Jakarta direstui oleh orang tuanya, walaupun Mbahnya masih belum setuju.
“O ya, Pak, Ulin ingin masuk Teknik,”ujar Ulin lirih.
“Apa-apaan kamu! Teknik? Wis tho ndak usah neko-neko, kamu itu perempuan. Tidak ada silsilah keluarga yang masuk Teknik. Keluarga kita keluarga santri. Bapak ndak sanggup melihatmu masuk Teknik dan berbaur di lapangan bersama puluhan laki-laki yang tak satu pun di antara mereka muhrim kamu. Bapak lebih suka kamu masuk keguruan, kamu jadi guru, mengajarkan ilmu pada orang ain dan amal jariahmu terus mengalir Nduk…”
“Pak, Arsitek, Insinyur,dan Ilmuan juga berguna untuk orang lain. Islam juga butuh Arsitek, Insinyur,dan Ilmuan. Pak, Bu, Ulin mohon…Ulin ndak mau jadi anak durhaka. Ulin mohon Bapak dan Ibu restui langkah yang akan Ulin ambil,” ujar Ulin hati-hati.
Rupanya malam itu menjadi malam yang berat bagi Ulin. Ia harus berusaha meyakinkan orang tuanya agar meluluskan keinginannya. Usaha Ulin berbuah hasil, Bapak dan Ibu setuju.
Berbulan-bulan Ulin belajar giat agar dapat lolos SPMB dan diterima di PTN yang ia inginkan. Saat SPMB, Ulin lolos dan diterima di PTN yang ia inginkan. Seluruh keluarga menyambut berita itu dengan suka cita, kecuali Mbah. Hal itu terlihat jelas saat keberangkatan Ulin ke Jakarta, Mbah tidak mau mengantar. Hati Ulin bagai teriris sembilu, sungguh ia tak ingin menyakiti Mbahnya. Ia tahu Mbahnya tak ingin kehilangan dirinya tetapi Ulin pun tak ingin cita-citanya terempas begitu saja.
Satu bulan Ulin di Jakarta, ia pulang untuk melepas rindu pada keluarganya. Begitu ia melangkah memasuki rumah, keluarganya menyambut gembira.
“Oalah Nduk, kamu kok lama sekali baru pulang. Mbah kangen,Nduk…,” kata Mbah sambil menciumi Ulin.
Ulin senang Mbahnya sudah bisa menerima keadaan. Namun sayang, saat-saat indah itu pun harus berakhir ketika Ulin akan kembali ke Jakarta. Agaknya rasa sayang Mbah pada Ulin mampu menggeser duka pada ceria. Ulin kembali ke Jakarta diantar oleh seluruh anggota keluarganya, termasuk Mbah.
Memasuki semester ke-3, tugas-tugas yang bejibun memaksa Ulin untuk berlama-lama di Jakarta dan jarang pulang ke Solo, Ulin sebenarnya juga merindukan rumahnya di Solo tapi apa mau dikata, ia tidak ingin tugasnya menumpuk, namun kali ini kerinduan yang membuncah di dadanya tak tertahankan lagi.
“Aku mau pulang, Dig, aku merindukan Mbah. Kamu benar, Beliau sedang sakit, Beliau membutuhkan aku di sisinya. Tugasku penting tapi Mbahku jauh lebih penting,”kata Ulin sambil bangun dari tempat tidurnya.
“Iya Lin, kamu mengambil keputusan yang tepat, ayo berkemas, akan kubantu,”ujar Digma semangat.
Ulin segera meraih tas ransel di bawah meja, Ia mengambil beberapa potong baju dari dalam almari lalu memasukkannya ke dalam tas dibantu Digma.
****
“Apa Ulin sudah memberi kabar, Bu?” Bapak menunggu kedatangan Ulin dengan cemas.
“Iya, Pak, tadi pagi dia telepon, katanya hari ini dia akan sampai sekitar jam lima sore, kita tunggu saja, Pak,” ujar Ibu menenangkan Bapak.
Sudah sekitar pukul setengah enam sore, Ulin belum juga tiba, Bapak dan Ibu melai cemas, ibu berkali-kali menelpon ke handphone Ulin, tetapi sedang tidak aktif.
“Duh, Pak. Bapak coba susul Ulin ke terminal sana, ibu jadi cemas,” kata Ibu cemas.
Dari dalam kamar nenek terdengar suara batuk, Ibu dan Bapak segera masuk untuk melihat nenek.
“Uhuk-uhuk! Mana Ulin, kok belum datang uhuk-uhuk!”
“Ulin masih di jalan Bu, sebentar mau saya susul ke terminal, siapa tahu dia lagi nunggu angkot buat ke sini,” kata Bapak sambil mengambil jaket dan bersiap ke luar. Beberapa langkah keluar dari kamar nenek, Ibu berlari kecil menyusul.
“Pak, nanti jangan lupa beli obat buat ibu ya, obatnya tinggal sedikit,” kata Ibu mengingatkan.
Bapak mengiyakan kata-kata ibu lalu mengeluarkan sepeda motor dari garasi. Beberapa saat kemudian Bapak melaju dengan motornya. Bapak mengendarai motor dengan pikiran yang kacau. Beliau mencemaskan Ulin, anak perempuan satu-satunya di keluarganya, yang sampai sekarang belum tiba di rumah. Langit sudah mulai gelap. Bapak semakin mempercepat laju sepeda motornya. Saat sampai di depan pertigaan pasar, Bapak melihat sosok berjilbab biru yang amat dikenalnya. Ulin!
Bapak menghentikan sepeda motornya tepat di depan Ulin.
“Lin, ngapain kamu disini? Bapak, Ibu sama Mbah itu cemas nungguin kamu! Bentak Bapak sambil menatap tajam Ulin.
“Maaf, Pak tadi Ulin beli wajik klethik kesukaan Mbah, Mbah kan sakit pasti senang kalau Ulin bawain wajik klethik…”
“Lha terus kenapa masih di sini?”
“Ulin ketinggalan angkot , Pak,” ucapUlin dengan wajah penuh sesal,” Ulin minta maaf, Pak sudah membuat keluarga cemas,” sambung Ulin.
“Yo wis, yo wis. Ayo kita pulang, Mbah sudah nungguin kamu!”
Ulin segera duduk di belakang Bapaknya. Ada sedikit sesal yang merayap di dadanya, Ah kalau saja aku tak ketinggalan angkot, batinnya.
Sepeda motor itu melaju kencang menembus pekatnya malam. Udara dingin mulai menusuk pori-pori kulit Ulin. Sesampainya di pertigaan dekat rumahnya,tiba-tiba SRETTT!!!Sebuah sepeda motor hamper menabrak Ulin dan Bapaknya.
“Woi…dasar wong edan,malam-malam ngebut di jalan raya,dikira jalan milik nenek moyang kamu tho,”Bapak marah marah kepada pengendara sepeda motor itu. Sayang, orang itu justru melaju semakin kencang.Tiba-tiba Ulin merasakan hawa dingin yang berbeda. Ada perasaan tak enak yang hinggap di hatinya,tapi ia segera menepisnya.
Beberapa saat kemudian, Ulin dan Bapak sampai di halaman rumah. Ulin membawa tas plastik berisi wajik kletik kesukaan Mbahnya.
Sesampainya di teras, Ulin dan Bapak kaget melihat kerumunan di rumahnya. Perasaan tidak enak seketika menjalar di hati mereka. Seorang tetangga, Bu Suti, keluar dengan berlinangan air mata. Ia berlari menuju Ulin.
“Lin, Mbahmu, Nduk…”
“Mbahmu, … Mbahmu Nduk…” Bu Suti tidak bisa meneruskan kalimatnya. Ulin terdiam. Ia tak perlu mendengar apa-apa lagi, ia sudah bisa membaca apa yang terjadi.
Tiba-tiba ia merasa gelap.
Label:
islami
Langganan:
Postingan (Atom)