Minggu, 24 Februari 2008

belajar!!!!!!!



Daiyah Khairunnisa alias Dey, dikenal sebagai seorang aktivis dakwah yang berprinsip. Ketika baru saja naik ke kelas 3 SMA Citra Negeri di Palembang, sahabatnya, Bella, berusaha menjodohkan Dey dengan Sir Fatah, guru Bahasa Inggris mereka yang baru dan masih muda. Dey tidak memedulikannya. Berbeda dengan Bella yang sering bergonta-ganti pacar, salah satu prinsip Dey adalah tidak berpacaran karena tidak ada konsep pacaran dalam Islam. Sir Fatah sendiri ternyata adalah lulusan pesantren di Jawa Timur yang sempat menjadi tenaga pengajar di beberapa pesantren. Ia pun pernah mengikuti studi pertukaran mahasiswa di salah satu Universitas Islam di Islamabad selama satu tahun.

Karena keadaan darurat dan tidak ada pilihan lain, suatu malam sekitar pukul setengah sebelas, Dey terpaksa berboncengan motor dengan Sir Fatah untuk pulang ke rumah. Ternyata peristiwa itu merupakan siasat Bella untuk menjodohkan Dey dengan Sir Fatah. Baik Dey maupun Bella tidak menyangka bahwa kejadian itu akan berakibat buruk. Di hari-hari berikutnya, Dey menjadi topik utama gosip terbaru dan terkejam di SMA mereka: ia sebagai anak Rohis diberitakan memiliki kedekatan istimewa dengan Sir Fatah, gurunya sendiri.

Lama kelamaan, Dey dan Sir Fatah sama-sama menyadari dan mengetahui bahwa mereka menyimpan perasaan yang sama, yaitu cinta. Cinta yang belum tepat waktu, yang belum halal di mata Allah. Keteguhan prinsip dan iman memaksa keduanya untuk berjuang mengendalikan perasaan itu. Keduanya lalu memutuskan untuk mengingkari perasaan masing-masing dan saling menjaga jarak. Itulah jalan satu-satunya ketika menikah menjadi pilihan yang sama sekali tidak mungkin terjadi. Hingga pada suatu hari, Dey merasa terguncang saat terdengar kabar bahwa Sir Fatah akan menikah. Dey berusaha untuk tidak memikirkannya dan memfokuskan diri pada persiapan ujian akhir.

Sebagai satu langkah dalam proses melupakan kisahnya dengan Sir Fatah, Dey memutuskan untuk kuliah di Bandung, tepatnya di Unpad. Dalam perjalanan dari Palembang menuju Bandung, Dey berkenalan dengan George alias Jo, seorang lelaki muda berambut agak gondrong yang merupakan teman sebangku Dey di bus. Jo berprofesi sebagai wartawan di Jakarta dan berumur beberapa tahun lebih tua dari Dey. Sepanjang perjalanan, dengan caranya yang unik dan sederhana, Jo berusaha menghibur Dey yang masih merasa kacau. Sebelum berpisah, Jo memberikan kartu nama adik perempuannya di Cirebon supaya Dey bisa menghubungi adiknya.

Sambil menunggu hasil tes SPMB, setelah bertualang ke tempat-tempat tertentu di Bandung, Dey pun berencana mengunjungi Alessandra alias Ale, adik Jo, di Cirebon. Sesampainya di Cirebon, Dey bertemu kembali dengan Jo. Di sana, Jo mengungkapkan isi hatinya bahwa ia bersimpati pada Dey. Kaget dengan pernyataan Jo, Dey segera pulang ke Palembang tanpa berpamitan terlebih dulu pada Jo. Jo mengejarnya, bahkan mengatakan bahwa ia akan menemui Hidayat, kakak Dey, untuk menunjukkan keseriusannya.

Ternyata Jo tidak main-main. Jo bertamu ke rumah Dey, menemui Hidayat, dan memberitahu kakak Dey itu bahwa ia memiliki misi untuk menjadi seorang muslim yang baik, cerdas, dan taat. Semua proses perbaikan diri itu dilakukan Jo terutama agar ia bisa melamar Dey di kemudian hari. Dey merasa bimbang, apalagi ketika mendengar kabar dari sahabat Rohis-nya di SMA, Deswita, tentang Sir Fatah yang tidak jadi menikah. Alasannya pun sangat mengejutkan, yaitu karena Sir Fatah memilih untuk berjihad sebagai panglima Allah ke negeri konflik Palestina. Ketika menghadiri pernikahan Hidayat, Dey bertemu lagi dengan Sir Fatah. Perjuangannya di Palestina ternyata telah menyebabkan Sir Fatah harus merelakan kaki kanannya.

Pada akhirnya, Dey diharuskan untuk memilih. Ia terjebak dalam lingkaran cinta tiga orang laki-laki: Jo, lelaki dewasa yang mapan dan serius memperbaiki diri untuk lebih dekat dengan-Nya; Reno, teman Dey di Rohis SMA dulu yang walaupun masih kuliah, tetapi telah memiliki pekerjaan dan siap menikah; serta Sir Fatah, masa lalunya yang kembali hadir kini. Siapakah yang akan Dey pilih?

*

Tentang cinta, memang ia adalah topik seumur hidup. Yang menjadi bagian terpenting dalam novel ini adalah pelajaran yang bisa diambil dari kisah hidup seorang Dey. Di kalangan aktivis dakwah, tidak jarang cinta pun bersemi sebelum waktunya. Kisah Dey menunjukkan bahwa para aktivis dakwah bukanlah tembok kokoh yang tidak berperasaan. Mereka adalah manusia dengan hati yang lembut dan bisa merapuh jika dihadapkan pada keadaan tertentu. Mereka pun merasakan cinta, menikmati cinta, tetapi mereka selalu memiliki cara untuk mengendalikannya. Mereka juga manusia, tetapi sebagai manusia yang memang tidak pernah lepas dari khilaf, mereka senantiasa memiliki niat dan tekad untuk selalu berjuang agar bisa tetap berada di jalan-Nya.

Novel ini adalah kumpulan dari kecintaan Azzura pada kota kelahiran dan kisah perjalanannya ke empat kota. Gadis yang turut membidani lahirnya FLP Wilayah Sumatera Selatan ini memang memiliki kegemaran jalan-jalan dan bertualang sendirian. Dengan keikutsertaannya dalam organisasi penulis nusantara dan mancanegara tersebut, minat dan bakat menulisnya mulai terasah. Pada 2003, ia berhasil menjadi juara ketiga Sayembara Penulisan Novel Remaja tingkat nasional Gema Insani Press 2003, dengan novel remaja berjudul Alabaster yang mengambil setting di Canberra dan Adelaide, Australia. Di akhir 2004, cerpen "Lampion" menyabet penghargaan terbaik kedua dalam Festival Kreativitas Pemuda yang diadakan atas kerjasama Creative Writing Institute, Direktorat Kepemudaan dan Diknas, serta dibukukan dalam antologi Dari Zefir sampai Puncak Fujiyama (CWI, 2004).

Seperti yang diutarakan Salim A.Fillah dalam sampul buku Birunya Langit Cinta ini, kisah Dey dan tiga orang lelaki dalam hidupnya ini memang senikmat susu coklat. Aromanya harum mewangikan cinta, gizinya memperkaya jiwa. Hangat, memikat! Bacalah, hiruplah keharuman aromanya, teguklah sedikit demi sedikit susu coklat yang penuh gizi ini, dan niscaya Anda akan bisa memaknai birunya langit cinta dari perspektif yang berbeda.

ga papa yah, ngutip dari blog sebelah...
tapi emang bagus kok...
ga cukup kalo cuma baca satu kali thok.....

Senin, 18 Februari 2008

kitakah sahabat semusim...?

Berapa banyak orang yang kau kenal di sepanjang hidupmu? jawabnya pasti banyak sekali. lalu seberapa berartinya mereka dalam proses hidupmu?

Huffh,sebenarnya na hanya ingin membicarakan tentang yang namanya 'sahabat'. Mungkin banyak yang mengatakan ada sahabat dalam tiap masa, tapi tidak demikian dengan diri ini. Buat na, sahabat itu harus selalu ada di tiap masa untuk menguatkan langkah kaki yang mulai letih, tak peduli di masa apa kita saat itu.

na tu sempet mikir gini lho, sekarang tu banyak sekali fenomena friendster dan testi-testi segala macam, ga ada yang salah dengan semua itu. Tapi, itukah cerminan profile-profile yang kita ijinkan masuk ke dalam kehidupan kita dan menjadi 'sahabat maya' kita? kadang pun testi yang ada hanya berisi pujian yang kadang justru melenakan hati si penerima, sedangkan itukah cerminan sahabat sejati?(baca:selalu membenarkan tiap lanhkah yang kita ambil)

hmmm, seakarang kalau ditanya sebenarnya apakah definisi sahabat menurut seorang ana Jawabnya, sahabat itu seseorang yang mau berkata tidak saat semua orang berkata iya.


biarkan angin menerbangkanmu,
membawamu jauh ke negeri jauh,
walau angin tak lagi hangat,
senyumnya tak mengenal masa...

Sabtu, 02 Februari 2008

apa kabar imanmu hari ini?

Assalamu'alaikumwrwb,

Apa kabar imanmu hari ini?


Dua hari yang lalu na mengirim sms berisi kata-kata itu pada teman-teman na. Na pertama kali dapat sms itu dari salah satu mur0bi yang mengisi ment0ring di axel beberapa waktu lalu.Tapi tak sedikit yang mengecewakan dengan membalas sms itu. sebenarnya sms itu tak perlu dibalas,hanya perlu direnungkan dan diresapi. Direnungkan untuk menyegarkan kembali ruhiyah kita yang mulai kering,Diresapi untuk melihat,sebenarnya,bagaimana iman kita pada hari ini. Seberapa lama kita larut dalam urusan dunia. Seberapa lama kita memikirkan kesenangan dunia.Seberapa tinggi amplitudo detak jantung kita saat ayat quran dibacakan di hadapan kita?

Apa kabar imanmu hari ini?


Na saat mengirim sms itu pun juga sebenarnya ikut tertohok.
iman masih setipis kulut bawang yang hampit lepas ini harus selalu diikat erat oleh berbagai tali. Perlu orang lain untuk mengingatkan saat langkah sudah mulai letih tertati.


Apa kabar imanmu hari ini?


Ya ALLAH,bagaimana kujawab tanyamu nanti,padahal Engkaulah Yang Maha Menyaksikan....

Senin, 21 Januari 2008

tetes embun

Assalamu'alaikumwrwb,,,
na baru aja nulis cerpen,
baca yah!
Wajik Klethik Mbah

Ulin menatap langit-lngit kosnya. Pandangannya menerawang berharap menembus cakrawala, menemukan pisau membedah pikirannya. Beberapa tumpukan buku kimia teronggok di sudut ruangan, angin sepi meniupkan jarak antara Ulin dengan teman kosnya yang sejak tadi duduk sambil membolak-balik majalah. Suasana sepi itu terpecah oleh detik jam dinding yang mengejek kebisuan malam ini.
“Lin, apa keputusanmu?”
Ulin tak menjawab. Ia tetap tidak mengalihkan pandangan dari langit-langit kosnya. Mungkin ia sendiri tak mendengar pertanyaan Digma, temannya.
“Lin, kamu jadi pulang, kan?” Tanya Digma sekali lagi sambil mendekati Ulin. “Entahlah Dig, sebenarnya aku ingin sekali pulang, tapi tugasku di sini masih menumpuk. Banyak tugas presentasi yang belum kubuat, beberapa literatur buku polimer logam juga belum kudapatkan. Aku pusing sekali Dig….” Kata Ulin sambil mengembuskan napas dengan keras.
“Kalau menurutku kamu sebaiknya pulang Lin.”
“Aku ingin sekali pulang tapi kau tahu sendiri keadaanku,” Ulin berkata lirih sambil memejamkan mata, pikirannya melayang jauh ketika ia masih di Solo. Di Solo, Ulin tinggal bersama ayah, Ibu dan mbahnya. Saat itu Ulin adalah siswi di sebuah Madrasah Aliyah Negeri di Solo. Di kelas Ulin termasuk murid yang pandai, ia selalu mendapatkan peringkat 10 besar di kelas. Memasuki kelas 3, Ulin mulai berpikir untuk memilih PTN yang ia inginkan.
Malam itu setelah sholat isya’ berjamaah bersama keluarganya, Ulin menyampaikan isi hatinya.
“Bapak, Ibu, Mbah….” Kata Ulin lirih sambil menahan gemuruh di dadanya, hatinya kebat-kebit, Ia mengambil napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
“Kenapa, Nduk?” Sahut Bapaknya.
“Ulin kan sudah kelas tiga, Ulin ingin kuliah di kota lain,”ucap Ulin hati-hati.
“Oalah nduk….kuliah kok jauh-jauh apa di Solo ndak ada?” mbahnya langsung merespon Ulin.
Bapak masih terdiam, keningnya berkerut, Ia sedang berpikir. Di samping Beliau, Ibu juga terdiam menunggu kata-kata suaminya. Ulin sudah menduga bahwa tidaklah mudah bagi keluarganya untuk meluluskan keinginannya.
“Lin…” kata Bapak denan suara berat. “Kalau kamu kuliah di luar kota, siapa yang akan ngurus kamu, Nduk, kamu akan jauh dari keluarga. Bapak ndak tega, Nduk,” ujar Bapak.
Suasana kembali hening, hanya suara jangkrik yang memecah heningnya malam. Sesaat kemudian Ulin mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menanggapi ujaran Bapaknya.
“Ulin sudah memikirkan hal itu ,Pak. Bapak tidak usah khawatir, Ulin kan sudah besar, sudah bisa mengurus diri sendiri,” ucap ulin mencoba menyakinkan keluarganya.
“Ndak! Pokoknya kamu ndak boleh kuliah jauh-jauh, kuliah kan bisa di Solo, dekat dengan rumah. Mbah ndak setuju,” kata Mbah hampir menangis.
“Ibu, sudah tenang dulu, kita dengarkan alasan Ulin,” kata Ibu sambil memberi kode pada Ulin untuk meneruskan kata-katanya.
Tenggorokan Ulin terasa tercekat, Ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
“Pak, Bu, Mbah, Ulin ingin cari pengalaman di kota lain, Ulin tahu kalian mengkhawatirkan Ulin, tapi Ulin ingin mengejar cita-cita di kota lain. Ulin punya cita-cita yang ingin Ulin raih dan cita-cita itu bukan di Solo,” kata Ulin perlahan.
“Bukan di Solo? Lalu di mana, Nduk?” Ibu angkat bicara.
“Jakarta….,” ujar Ulin lirih
“Oalah Nduk, Jakarta itu jauh….apa kamu ndak kejauhan kuliahnya?” Tanya Mbah.
“Mbah, Jakarta itu ndak jauh kok, nanti kalau Ulin kangen rumah Ulin bisa pulang sendiri..” ujar Ulin
“Kenapa mesti Jakarta, Nduk?” Tanya Bapak sambil menatap buah hatinya.
“Di Jakarta mutu pendidikannya jauh lebih baik daripada disini, Pak. Lagi pula Ulin ingin menambah pengalaman. Ulin ingin punya teman dari banyak daerah, kalau Ulin kuliah di sini, Ulin tidak bisa mendapatkan itu semua…”
“Mbah pokoknya ndak setuju!” kata Mbah sambil pergi meninggalkan Bapak, Ibu dan Ulin.
“Ya sudahlah, biarkan Mbahmu menenangkan diri, kalau kamu memang maunya begitu Bapak sih setuju saja. Kami anggap kamu tahu yang terbaik bagi kamu,”ujar Bapak.
Ulin lega sekali mendengar hal itu. Niatnya untuk kuliah di Jakarta direstui oleh orang tuanya, walaupun Mbahnya masih belum setuju.
“O ya, Pak, Ulin ingin masuk Teknik,”ujar Ulin lirih.
“Apa-apaan kamu! Teknik? Wis tho ndak usah neko-neko, kamu itu perempuan. Tidak ada silsilah keluarga yang masuk Teknik. Keluarga kita keluarga santri. Bapak ndak sanggup melihatmu masuk Teknik dan berbaur di lapangan bersama puluhan laki-laki yang tak satu pun di antara mereka muhrim kamu. Bapak lebih suka kamu masuk keguruan, kamu jadi guru, mengajarkan ilmu pada orang ain dan amal jariahmu terus mengalir Nduk…”
“Pak, Arsitek, Insinyur,dan Ilmuan juga berguna untuk orang lain. Islam juga butuh Arsitek, Insinyur,dan Ilmuan. Pak, Bu, Ulin mohon…Ulin ndak mau jadi anak durhaka. Ulin mohon Bapak dan Ibu restui langkah yang akan Ulin ambil,” ujar Ulin hati-hati.
Rupanya malam itu menjadi malam yang berat bagi Ulin. Ia harus berusaha meyakinkan orang tuanya agar meluluskan keinginannya. Usaha Ulin berbuah hasil, Bapak dan Ibu setuju.
Berbulan-bulan Ulin belajar giat agar dapat lolos SPMB dan diterima di PTN yang ia inginkan. Saat SPMB, Ulin lolos dan diterima di PTN yang ia inginkan. Seluruh keluarga menyambut berita itu dengan suka cita, kecuali Mbah. Hal itu terlihat jelas saat keberangkatan Ulin ke Jakarta, Mbah tidak mau mengantar. Hati Ulin bagai teriris sembilu, sungguh ia tak ingin menyakiti Mbahnya. Ia tahu Mbahnya tak ingin kehilangan dirinya tetapi Ulin pun tak ingin cita-citanya terempas begitu saja.
Satu bulan Ulin di Jakarta, ia pulang untuk melepas rindu pada keluarganya. Begitu ia melangkah memasuki rumah, keluarganya menyambut gembira.
“Oalah Nduk, kamu kok lama sekali baru pulang. Mbah kangen,Nduk…,” kata Mbah sambil menciumi Ulin.
Ulin senang Mbahnya sudah bisa menerima keadaan. Namun sayang, saat-saat indah itu pun harus berakhir ketika Ulin akan kembali ke Jakarta. Agaknya rasa sayang Mbah pada Ulin mampu menggeser duka pada ceria. Ulin kembali ke Jakarta diantar oleh seluruh anggota keluarganya, termasuk Mbah.
Memasuki semester ke-3, tugas-tugas yang bejibun memaksa Ulin untuk berlama-lama di Jakarta dan jarang pulang ke Solo, Ulin sebenarnya juga merindukan rumahnya di Solo tapi apa mau dikata, ia tidak ingin tugasnya menumpuk, namun kali ini kerinduan yang membuncah di dadanya tak tertahankan lagi.
“Aku mau pulang, Dig, aku merindukan Mbah. Kamu benar, Beliau sedang sakit, Beliau membutuhkan aku di sisinya. Tugasku penting tapi Mbahku jauh lebih penting,”kata Ulin sambil bangun dari tempat tidurnya.
“Iya Lin, kamu mengambil keputusan yang tepat, ayo berkemas, akan kubantu,”ujar Digma semangat.
Ulin segera meraih tas ransel di bawah meja, Ia mengambil beberapa potong baju dari dalam almari lalu memasukkannya ke dalam tas dibantu Digma.

****
“Apa Ulin sudah memberi kabar, Bu?” Bapak menunggu kedatangan Ulin dengan cemas.
“Iya, Pak, tadi pagi dia telepon, katanya hari ini dia akan sampai sekitar jam lima sore, kita tunggu saja, Pak,” ujar Ibu menenangkan Bapak.
Sudah sekitar pukul setengah enam sore, Ulin belum juga tiba, Bapak dan Ibu melai cemas, ibu berkali-kali menelpon ke handphone Ulin, tetapi sedang tidak aktif.
“Duh, Pak. Bapak coba susul Ulin ke terminal sana, ibu jadi cemas,” kata Ibu cemas.
Dari dalam kamar nenek terdengar suara batuk, Ibu dan Bapak segera masuk untuk melihat nenek.
“Uhuk-uhuk! Mana Ulin, kok belum datang uhuk-uhuk!”
“Ulin masih di jalan Bu, sebentar mau saya susul ke terminal, siapa tahu dia lagi nunggu angkot buat ke sini,” kata Bapak sambil mengambil jaket dan bersiap ke luar. Beberapa langkah keluar dari kamar nenek, Ibu berlari kecil menyusul.
“Pak, nanti jangan lupa beli obat buat ibu ya, obatnya tinggal sedikit,” kata Ibu mengingatkan.
Bapak mengiyakan kata-kata ibu lalu mengeluarkan sepeda motor dari garasi. Beberapa saat kemudian Bapak melaju dengan motornya. Bapak mengendarai motor dengan pikiran yang kacau. Beliau mencemaskan Ulin, anak perempuan satu-satunya di keluarganya, yang sampai sekarang belum tiba di rumah. Langit sudah mulai gelap. Bapak semakin mempercepat laju sepeda motornya. Saat sampai di depan pertigaan pasar, Bapak melihat sosok berjilbab biru yang amat dikenalnya. Ulin!
Bapak menghentikan sepeda motornya tepat di depan Ulin.
“Lin, ngapain kamu disini? Bapak, Ibu sama Mbah itu cemas nungguin kamu! Bentak Bapak sambil menatap tajam Ulin.
“Maaf, Pak tadi Ulin beli wajik klethik kesukaan Mbah, Mbah kan sakit pasti senang kalau Ulin bawain wajik klethik…”
“Lha terus kenapa masih di sini?”
“Ulin ketinggalan angkot , Pak,” ucapUlin dengan wajah penuh sesal,” Ulin minta maaf, Pak sudah membuat keluarga cemas,” sambung Ulin.
“Yo wis, yo wis. Ayo kita pulang, Mbah sudah nungguin kamu!”
Ulin segera duduk di belakang Bapaknya. Ada sedikit sesal yang merayap di dadanya, Ah kalau saja aku tak ketinggalan angkot, batinnya.
Sepeda motor itu melaju kencang menembus pekatnya malam. Udara dingin mulai menusuk pori-pori kulit Ulin. Sesampainya di pertigaan dekat rumahnya,tiba-tiba SRETTT!!!Sebuah sepeda motor hamper menabrak Ulin dan Bapaknya.
“Woi…dasar wong edan,malam-malam ngebut di jalan raya,dikira jalan milik nenek moyang kamu tho,”Bapak marah marah kepada pengendara sepeda motor itu. Sayang, orang itu justru melaju semakin kencang.Tiba-tiba Ulin merasakan hawa dingin yang berbeda. Ada perasaan tak enak yang hinggap di hatinya,tapi ia segera menepisnya.
Beberapa saat kemudian, Ulin dan Bapak sampai di halaman rumah. Ulin membawa tas plastik berisi wajik kletik kesukaan Mbahnya.
Sesampainya di teras, Ulin dan Bapak kaget melihat kerumunan di rumahnya. Perasaan tidak enak seketika menjalar di hati mereka. Seorang tetangga, Bu Suti, keluar dengan berlinangan air mata. Ia berlari menuju Ulin.
“Lin, Mbahmu, Nduk…”
“Mbahmu, … Mbahmu Nduk…” Bu Suti tidak bisa meneruskan kalimatnya. Ulin terdiam. Ia tak perlu mendengar apa-apa lagi, ia sudah bisa membaca apa yang terjadi.
Tiba-tiba ia merasa gelap.

Sabtu, 22 Desember 2007

langkah maju

bismillahirrahmanirrahim,,,,,
Assalamu'alaikumwrwb,
Ada satu pertanyaan yang cukup menohok.
Apakah kamu merasa ikut andil dalam penciptaan manusia di bumi ALLAH ini?
Sebenarnya jawabannya sudah pasti,TIDAK!Tapi kenapa ya kita merasa berhak atas sesuatu yang kita tidak ikut menciptakannya. Seringkali saat orang2 yang kita cintai pergi kita merasa tidak ingin berpisah dengan orang itu karena merasa"Dia milikku",. Misalkan saat orang tua kita meninggal dunia, kita sedih, dan seperti tak ingin kehilangan mereka,apa itu salah?
Sebenarnya dengan kita merasa kehilangan,berarti kita merasa memiliki,dan itu adalah rahmat ALLAH. Ada banyak orang yang bahkan tidak punya rasa memiliki, akibatnya mereka tak pernah merasa kehilangan. Banyak orang yang dengan suka rela menjerumuskan diri masuk ke jurang narkoba.Kenapa? Karena mereka merasa tak punya siapa-siapa,hal ini menunjukkan bahwa betapa rasa memiliki itu sangat penting bagi seseorang.
Namun hal yang perlu kita sikapi adalah bahwa menempatkan rasa memiliki pada porsinya. Memiliki orang tua bukan berarti kita BERHAK atas orang tua kita. Saat orang tua kita meninggal, hal ini jelas menunjukkan bahwa mereka bukan milik kita,bukan hak kita, saat itulah Pemilik Sesungguhnya menginginkan kita untuk mengembalikannya,karena kita hanya dititipi.Jadi mau tidak mau,ikhlas tidak ikhlas, pasti Sang Pemilik akan mengambl miliknya kembali. Saat orang tua kita meninggal sekeras apapun kita menangis,orang tua kita tidak akan hidup lagi kan?
Ya apapun itu sebenarnya rasa memiliki itu sangat penting bila kita porsikan dengan baik dan sesuai.
Apabila kita dapat melakukannya, hal yang terjadi adalah semakin dekatnya kita pada Pemilik Asli agar (mungkin) ia selalu mendekatkan kita pada orang yang kita cintai meskipun Dia akan mengambilnya dari kita.
Saya teringat suatu kalimat yang cukup menohok,"Mengapa kita berandai-andai padahal kita tahu bahwa kematian itu datang tiba-tiba".
Semoga apa yang kita miliki sanggup menjadikan kita orang yang bersyukur di jalanNya. Amien.
Wassalamu'alaikum wrwb.

Jumat, 30 November 2007

Hilangkan stressss

Assalamu'alaikumwrwb,
hari ini di sekolah na ada kunjungan psikologi dari undip. Alhamdulillah banget ada acara semacam itu. Pihak undipnya sendiri mengambil tema RELAKSASI hehehe..biar gak stress gitu,,Na jadi inget pas pertama kali masuk aksel,,duh,penuh perjuangan banget!
Dulu pas SMP masuk aksel SMU 3 SOLO tu dah yang 'wah' banget lho,,,ehm-ehm, eh bener lho! Jadii..ii pas tau kalo waktu itu na keterima di aksellllll wah........ Senengggggggg banget!!!!ALHAMDULILLAH, na juga pernah bayangin kalau seandainya sekarang na bukan di aksel tapi di sekolah atau program lain,mungkin tugasnya lebih simple atau ga serumit di aksel,tapi waktu pertama kali na daftar di aksel,berarti saat itulah na sudah berkomitmen tuk masuk dan terjerumus..(waduh bahasanya...) ke dalam suatu surga pendidikan^^^^^aksel. Tapi seiring berjalannya waktu,mungkin semangat na dah mulai luntur kali yah T_T
Tapi seperti ombak dilautan,sekali na dah sadar dari keterpurukan ni na akan menghantam kapal..hehehehe,,Sudah saatnya bangkit dari rasa malas,rasa sedih,dan rasa sendiri. Na jadi inget sama kata-kata di sebuah novel" Jika kamu menginginkan sesuatu dan kamu tidak hanya menginginkan itu untuk dirimu sendiri maka, percayalah semesta akan bersatu padu membantumu, mewujudkan apa yang kamu inginkan itu"
Yups indah bangetkan...ceile,,,bukan,ini bukan untuk sekedar kata-kata iseng,ini adalah semangat dari ombak yang pernah tidur dan sekarang,ombak itu siap untuk menghantam kapal!!!!!!LA HAWLA QUWATTA ILABILLAH.

Kamis, 15 November 2007

lagi pluu

Lagi flu nieww...hajjing!!! Assalamu'alaikumwrwb,,,afwan ya,, na baru posting sekarang,,,Alhamdulillah,sekarang na dah kelas 3 sma.Duh aksel mang berat T_T....tapi inilah hidup,HIDUP ADALAH PERJUANGAN!!!! hehehe,,,duile,,,,Ehm,mulai hari ini gak boleh ada lagi kesia-siaan yang mampir dalam hari-hari na. Duh jadi inget ma kata-kata bijak gitu,,,"Hari ini adalah amal yang tidak ada hisab,sedangkan besok adalah hisab yang tidak ada amal."0ya,mengenai ujian nasional yang ditambah fisika,biologi,ma kimia,duh sebenarnya na takut juga siw,tapi ada juga seseorang yang menyampaikan kata-kata penuh hikmah:masa depan tu kadang terlihat menakutkan,tapi ternyata ketika kita lakukan tak seseram yang kita bayangkan,kesulitan pasti ada jalan,kita tak boleh ragu melangkah.SEMANGAT!Waktu memang laksana pedang,dan parahnya na baru menyadarinya akhir-akhir ini. Terlalu banyak kesia-siaan yang na perbuat. Hidup ini terlalu berharga untuk kita sia-siakan.hiajji...ng!!!Dulu waktu ALLAH mengkaruniakan kesehatan mungkin na kurang bersyukur,sekarang saat ALLAH memberikan sakit,diri ini hanya mengeluh. Apa lagi ini musim hujan,yang seharusnya menjadi rahmat untuk seluruh umat menjadi begitu menyiksa na.Astagfirullah hal'adzim,tuh kan betapa diri ini sering mengeluh YA ALLAH,,,Yups,bagaimanapun na baru belajar,belajar menuju kedewasaan,dan semakin kita besar kita akan mendapat masalah yang jauh lebih besar lagi.Ya sudah,sukron ya akh,ukh,,bimbinglah na yang masih kecil ini.Wassalamu'alaikumwrwb,

Minggu, 04 November 2007

ta'aruf dulu yahhhh

Assalamu'alaikumwrwb,,,
ehm sebenarnya na dlu dah punya blog..tapi lupa idnya,,,
hehehehe moga2 gak salah n gak lupa yah,,,amien,,
Akhi,ukhti, ntah kenapa akhir-akhir ini na merasa futur,,,
tapi na gakj mau terpuruk terlalu lama di"kefuturan" ini! yah,na memang baru belajar,tapi na harus tetap semangat,gak boleh kalah dengan orang2 terdahulu yang dirindukan surga,,,,,,
melangkah,,,,,,,Lagi!!!